Komarudin Hidayat Soroti Ancaman Kolonialisme Digital dan Konten Sensasional di Tengah Disrupsi Teknologi

Avatar of Redaksi
IMG 20250515 WA0077
Ketua Dewan Pers baru periode 2025-2028, Komarudin Hidayat, memberikan keterangan kepada wartawan di Gedung Dewan Pers, Jakarta Pusat. (Fajri/Kabarterdepan.com)

Jakarta, Kabarterdepan.com – Ketua Dewan Pers periode 2025–2028, Komarudin Hidayat, menekankan bahwa dunia pers kini menghadapi tantangan besar akibat disrupsi digital yang semakin masif.

Dalam pernyataannya usai prosesi serah terima jabatan di Gedung Dewan Pers, Rabu (14/5/2025), ia menyoroti hadirnya artificial intelligence (AI) dan dominasi platform-platform digital sebagai fenomena yang membawa peluang sekaligus ancaman.

“Platform-platform digital tersebut punya sisi positif karena bisa membangun edukasi publik. Misalnya, banyak podcaster yang menyajikan konten bagus dan disukai masyarakat. Tapi di sisi lain, banyak juga yang hanya menjual sensasi demi mengejar followers dan monetisasi, dengan isi yang justru sampah,” ujar Komarudin.

Lebih jauh, ia menyampaikan bahwa tantangan utama bukan sekadar pada aspek teknologi, melainkan juga bentuk baru dari penjajahan dalam ranah digital yang memengaruhi pola pikir masyarakat secara masif.

“Algoritma digital sekarang mengarahkan cara kita melihat dunia. Saat buka YouTube atau media sosial, apa pun yang muncul itu yang kita konsumsi, tanpa tahu apakah itu benar, autentik, atau hoaks,” tegasnya.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Komarudin menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor. Ia menyerukan kolaborasi antara Dewan Pers, institusi pendidikan, serta para pengelola platform digital guna menata ulang ruang publik informasi.

“Makanya dewan pers dan juga guru-guru, pendidik juga pengelola medsos, hendaknya kerja sama. Satu untuk mendidik masyarakat, tapi juga untuk _maintenancing_, untuk membersihkan pikiran-pikiran, sampah-sampah yang mengganggu komunikasi wacana kita,” tambahnya.

Komarudin memastikan bahwa jajaran Dewan Pers yang baru akan berkomitmen penuh untuk memperkuat peran media dalam menjamin keaslian dan akurasi informasi.

Di tengah derasnya arus hoaks, kehadiran pers yang kredibel dinilai sangat vital untuk menjaga kewarasan publik dan demokrasi. (Fajri)

Responsive Images

You cannot copy content of this page