Kisah Petugas Haji Pasaman Sobeng Suradal, Berhasil Temukan Jemaah Lansia yang Tersesat di Mina

Avatar of Redaksi
Screenshot 20250608 102448
Petugas Haji Daerah, Sobeng Suradal dan Jemaah Haji Lansia Resiko Tinggi yang Tersesat. (FajarPR/kabarterdepan.com)

Mina, kabarterdepan.com- 
Di tengah padatnya lautan manusia pada puncak ibadah haji 1446 H/2025 M, sebuah kisah pengabdian dan kepahlawanan senyap datang dari Mina, Sabtu malam (7/6/2025).

Sobeng Suradal, Petugas Haji Daerah (PHD) dari Pasaman yang juga menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Pasaman berhasil menemukan seorang jemaah haji lanjuta usia (lansia) yang tersesat di Mina.

Jemaah haji lansia yang juga termasuk kategori berisiko tinggi (resti) tersebut atas nama Zulfikar Said, asal Solok, dari Kloter PDG 13. Ia dilaporkan tersesat di antara tenda-tenda jemaah yang membentang luas.

Misi pencarian tentu tidak mudah. Namun Sobeng Suradal mengambil tanggung jawab penuh. Dengan tekad yang kuat, ia menyusuri tenda demi tenda, lorong demi lorong, menembus padatnya Mina yang dipenuhi jutaan jemaah dari seluruh penjuru dunia. Suhu malam yang tetap tinggi tak mengendurkan semangatnya dalam menjalankan tugas.

Beberapa jam kemudian, jemaah lansia tersebut berhasil ditemukan dalam keadaan selamat. Ia tampak kelelahan, namun segera mendapatkan pertolongan dan pendampingan medis yang dibutuhkan dari tim tenaga kesehatan kloter. Penemuan ini menjadi momen haru yang disambut syukur oleh rombongan jemaah lainnya.

“Saya hanya menjalankan amanah. Ini tugas kemanusiaan, dan kehormatan besar bisa melayani para tamu Allah,” ujar Sobeng dengan tenang, Minggu (9/6/2025).

Dedikasi Sobeng selama menjalankan tugas di tanah suci memang tidak main-main. Keterangan dari sejumlah jemaah menyebutkan bahwa ia hanya tidur 1 hingga 2 jam per malam. Waktunya habis untuk memastikan seluruh jemaah, terutama mereka yang lansia dan masuk kategori risiko tinggi, selalu dalam keadaan aman, sehat, dan nyaman.

“Beliau hampir tak pernah terlihat tidur panjang. Selalu hadir di saat kami butuh, tak kenal waktu,” ungkap Benni, salah seorang jemaah asal Pasaman yang turut menyaksikan langsung kerja senyap Sobeng di lapangan.

Sobeng merupakan bagian dari tim petugas Kloter PDG 13 yang terdiri dari Ketua Kloter Muksinin, Pembimbing Ibadah Syafrizon, serta petugas PHD lainnya seperti Elafki dan Atiek. Tim ini juga diperkuat oleh tenaga kesehatan dr. Nina dan perawat Sri Maiyenti. Bersama-sama, mereka membentuk barisan pelayanan yang siaga 24 jam, bergantian mengawal para jemaah dari berbagai dinamika di lapangan.

Namun nama Sobeng Suradal begitu melekat dalam kesan banyak jemaah. Di tengah jadwal yang padat dan tekanan fisik yang berat, ia tetap menunjukkan ketulusan dan kepedulian yang nyata. Baginya, tak ada yang lebih penting dari memastikan jemaah sampai pada tujuan ibadahnya dengan selamat dan khusyuk.

“Kami hanya berikhtiar. Selebihnya, Allah yang menjaga mereka. Semoga semua jemaah dapat menyelesaikan rangkaian ibadah ini dengan baik,” tambahnya.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji, selalu ada tangan-tangan yang bekerja dalam diam. Dan pada malam itu di Mina, tangan Sobeng Suradal menorehkan catatan kemanusiaan yang tulus dan patut dikenang. (FajarPR)

Responsive Images

You cannot copy content of this page