Kisah Perjuangan Pasutri di Sragen:, Wujudkan Mimpi Madrasah Gratis

Avatar of Redaksi
IMG 20250807 WA0061
Dokumentasi kegiatan Madrasah Diniyah Nurul Jadid Dusun Torolor Desa Kacangan Kecamatan Sumberlawang Kabupaten Sragen beberapa tahun yang lalu (masrikin/kabarterdepan.com)

Sragen, kabarterdepan.com — Mamank Maryono duduk bersila di serambi rumah kecilnya di Dukuh Torolor, Desa Kacangan, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen.

Udara sore terasa gerah, tapi nada suaranya tetap tenang, meski sesekali bergetar. Ia mengulang kalimat yang tak pernah benar-benar lepas dari benaknya:

“Madrasah kami dibegal, perjuangan kami dirusak. Tapi kami tetap NU,” ungkap Mamank, Rabu (6/8/2025).

Ia tidak sedang berpuisi. Itu adalah ungkapan kekecewaan dari seseorang yang merasa dicabut dari tanah yang telah ia tanami sendiri.

Bersama sang istri, Asih Windaryati, Mamank telah mengabdikan hidupnya untuk membangun pendidikan keagamaan di akar rumput. Bukan demi jabatan, bukan pula demi pujian, melainkan karena keyakinan: bahwa ilmu agama harus sampai ke tangan siapa pun, terutama yang tak mampu.

Pada tahun 2010, mereka mewakafkan sebidang tanah keluarga seluas 1.065 meter persegi. Di atas tanah itulah, Madrasah Diniyah Nurul Jadid berdiri dengan bangunan dari bambu seadanya, papan nama sederhana, dan harapan yang sangat besar.

Pada awal berdirinya, madrasah ini dirintis di rumah mereka di Torolor, Kacangan. Setelah peresmian, madrasah dipindah ke Karang Tengah. Dalam waktu singkat, jumlah berkembang hingga mencapai 150-an santri. Asih, alumni Pondok Pesantren Miftahul Ulum Jogoloyo, Demak, menjadi pengajar utama. Mereka mengajar tanpa bayaran. Bahkan tanpa syarat.

“Kami buka untuk siapa saja. Gratis. Anak petani, buruh, yatim piatu. Tak satu pun kami tolak,” kenang Asih, matanya menerawang.

Puncak semangat mereka terjadi pada tahun 2012, ketika Madrasah Diniyah Nurul Jadid diresmikan oleh dua tokoh NU Sragen: KH Ma’sum Abidarda dan KH dr. Agus Budiharto. Kehadiran tokoh-tokoh ini menjadi semacam restu spiritual dan kultural bahwa perjuangan mereka mendapat pengakuan.

Namun sebagaimana banyak kisah getir di balik layar organisasi besar, perjalanan mereka tidak berakhir seperti yang diharapkan.

Pada April 2014, terjadi peristiwa memilukan. Santri-santri dipindahkan dari Nurul Jadid Karang Tengah ke lokasi lain, bukan oleh orang tua mereka, melainkan oleh oknum dalam struktur madrasah. Perlahan, Mamank Maryono dan Asih Windaryati yang dulu merintis dari nol, mulai tersingkir. Madrasah bambu masih berdiri, tapi santri tinggal seadanya.

Pada Agustus 2017, mereka kembali mengalami pengambilalihan santri untuk kedua kalinya.

Mamank dan Asih tidak berhenti. Mereka terus berupaya membantu perjuangan, termasuk mengupayakan tanah untuk RSNU (Rumah Sakit Nahdlatul Ulama) Sragen di sebelah madrasah. Namun program tersebut gagal terealisasi.

Mamank Maryono bukan sosok asing dalam tubuh NU. Sejak era Reformasi, ia aktif dalam berbagai kegiatan ke-NU-an. Ia turut menginisiasi kebangkitan MWC NU Sumberlawang lewat rutinan Rabu Pon di Masjid Baitul Jannah, Torolor. Ia juga pernah menjadi Komandan Pertama Banser (Kasatkoryon) Sumberlawang pada 1998–2012, serta menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah NU tingkat ranting.

Asih pun demikian. Ia pernah menjadi Ketua Fatayat NU di desanya selama satu dekade.

“Bagi kami, NU adalah ladang pengabdian, bukan tempat cari nama,” ujar Mamank pelan.

Kini, status mereka bukan lagi pengurus. Mereka bahkan menyebut diri sebagai warga tunawisma, karena tempat tinggal dan usaha mereka harus dijual akibat tekanan dan kejahatan kemanusiaan yang mereka alami.

Madrasah hanyalah bagian kecil dari cita-cita besar mereka. Di benak Mamank dan Asih, ada rencana membangun Islamic Center di atas lahan wakaf itu lengkap dengan rest area, masjid, dan Santri Mart. Mereka melihat potensi besar dari letak madrasah yang berada di jalur strategis Solo–Purwodadi KM 33, jalur utama para jamaah haji dari tujuh kabupaten menuju Embarkasi Solo: Demak, Jepara, Kudus, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan.

Namun mimpi itu kandas. Bukan karena ketiadaan dana, melainkan karena pertarungan kuasa di tingkat bawah yang menghentikan segalanya. Sejak “pembegalan” madrasah itu, tak ada lagi aktivitas belajar. Tanah itu kini kosong, sunyi, tanpa suara santri.

Pada 2022, dimulailah pembangunan masjid di atas lahan tersebut. Sertifikat wakaf masih atas nama Maryono nama asli dari Mamank yang juga menjabat sebagai Ketua Nadzir (pengelola wakaf). Meski sempat ada upaya untuk menyingkirkan Maryono dari pengelolaan, ia tetap berusaha melanjutkan cita-citanya mengabdi kepada sesama lewat tanah wakaf tersebut.

Kini, masjid sudah berdiri. Tapi keluarga Mamank dan Asih masih membutuhkan dukungan baik moril maupun materil untuk melanjutkan perjuangan mereka yang selama ini dilakukan tanpa pamrih.

“Kami sadar, NU adalah organisasi mandiri. Tapi kalau ada yang mengorbankan diri untuk NU, apakah akan terus dibiarkan berjuang sendirian?” ucap Mamank lirih.

Sholihin, warga setempat, membenarkan perjuangan keluarga Mamank untuk masyarakat mulai dari layanan ambulans gratis, hingga madrasah tanpa biaya. Ia berharap madrasah itu bisa kembali hidup.

“Dulu banyak anak-anak yang belajar di sana. Semoga dengan adanya masjid, anak-anak kembali banyak yang mengaji,” ujarnya.

Di balik gemerlap panggung organisasi dan acara besar-besaran, ada Mamank dan Asih yang membakar hidupnya untuk sebuah keyakinan. Bahwa NU bukan hanya soal struktur, melainkan soal jiwa. Dan jiwa itu tumbuh dari tanah, dari peluh, dari pengorbanan diam-diam yang sering tak tercatat dalam buku sejarah.

Kini mereka tidak menuntut apa-apa. Tidak minta jabatan. Tidak minta dikembalikan. Hanya satu: agar sejarah perjuangan kader-kader di lapisan bawah tidak dilupakan.

Meski demikian, Mamank dan Asih tetap akan selalu berjuang untuk menghidupkan kembali madrasah, sesuai dengan tujuan awal mereka.(Masrikin).

Responsive Images

You cannot copy content of this page