
Buleleng, kabarterdepan.com – Sebuah fenomena unik tersaji dalam khazanah seni tari Bali, khususnya di Buleleng. Jika umumnya tarian Bali memukau dengan tatapan mata penari yang tajam, “Rejang Mahadewi” justru hadir dengan keistimewaan yang berbeda. Sejak awal hingga akhir, para penarinya membawakan gerakan anggun dengan mata terpejam, menghadirkan pengalaman spiritual yang mendalam bagi para penonton.
Tarian “Rejang Mahadewi” baru saja diperkenalkan kepada publik oleh Sekehe Gong Kebyar Wanita Sanggar Seni Jagratara.
Karya kolaborasi apik antara koreografer Bagus Kawiantara dan penata musik I Kadek Rio Julyarta Putra ini bukan sekadar tontonan biasa.
Gerakan demi gerakan yang lembut mengalir bagaikan representasi keanggunan dewi-dewi, diiringi alunan magis gong semar pegulingan yang menghipnotis.
I Kadek Rio Julyarta Putra mengungkapkan bahwa tarian ini terinspirasi dari Tari Sang Hyang Kebyar yang pernah memukau panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) 2021.
Lebih dari itu, “Rejang Mahadewi” lahir dari perenungan mendalam atas limpahan berkah alam dari Sang Pencipta.
“Penari yang menari dengan mata tertutup adalah simbol bahwa syukur tak butuh pamer, cukup tulus dan penuh bakti,” jelasnya, Rabu (23/4/2025).
Musik yang mengiringi tarian ini pun dirancang khusus untuk menciptakan suasana hening yang penuh penghayatan.
“Kami ingin menghadirkan suasana hening yang justru menghidupkan kekuatan dari dalam. Musiknya pelan tapi menggugah,” imbuh Rio.
Penampilan perdana Rejang Mahadewi pada perayaan HUT Kota Singaraja baru-baru ini sukses memukau para hadirin. Tarian ini tidak hanya menyajikan keindahan visual, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya dimensi spiritual dalam seni pertunjukan Bali.
“Rejang Mahadewi” dipandang sebagai wujud penghormatan terhadap kearifan lokal Buleleng sekaligus upaya pelestarian nilai-nilai luhur budaya Bali. (Wij)
