
Yogyakarta, kabarterdepan.com – Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) Tiyo Ardianto, membeberkan perkembangan terbaru terkait teror yang dialaminya bersama jajaran pengurus BEM. Teror tersebut disebut tidak hanya menyasar dirinya secara pribadi, tetapi juga orang tua pengurus.
Tiyo menjelaskan, sejauh ini sedikitnya lebih dari 40 pengurus BEM UGM dari ratusan anggota yang menerima teror melalui nomor tidak dikenal, bahkan kepada orang tua pengurus.
Telepon Misterius Pengurus BEM UGM
Bahkan disebut Tiyo salah satu pengurus BEM UGM kembali mendapat telepon misterius yang secara tiba-tiba menanyakan identitas dirinya dan keluarga pengurus BEM melalui keluarga.
“Yang menerima teror adalah saya pribadi, orang tua, dan lebih dari 40 pengurus. Hari ini ada orangtua pengurus yang ditelpon nomor tidak dikenal berisi teror,” ujar Tiyo di Universitas Islam Indonesia (UII) Cik Di Tiro, Minggu (22/2/2026).
Ia menduga ada intel yang sengaja dimasukkan ke dalam grup percakapan oleh pihak-pihak tertentu. Kendati begitu, pihaknya masih melakukan penyelidikan secara internal mengingat jumlah anggota yang cukup banyak.
Menurutnya, eskalasi teror justru meningkat setelah isu ini menjadi perhatian publik. Nomor-nomor asing tersebut disebut masih terus melanjutkan aksi intimidasi, meski telah diketahui secara luas.
Dugaan Kebocoran Data dan Selektivitas Target
Tiyo mengaku heran karena dari total sekitar 600 pengurus inti dan hampir 1.000 orang dalam kepanitiaan BEM UGM, hanya sekitar 40 orang yang menjadi sasaran teror.
“Kami masih belum tahu sebab sebenarnya. Kenapa hanya 40 orang? Apakah karena aktivitas tertentu di LinkedIn atau platform lain yang menyebut identitas sebagai pengurus BEM UGM?” ujarnya.
Ia menilai pelacakan sumber kebocoran data digital tidak mudah, mengingat besarnya jumlah anggota dalam grup komunikasi internal.
Koordinasi dengan LPSK
Tiyo menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) serta pihak kampus . Namun hingga saat ini, mereka menilai belum perlu melaporkan kasus tersebut ke kepolisian.
“Kami memiliki pemahaman bahwa teror ini belum perlu dilaporkan ke pihak kepolisian. Fokus kami hari ini adalah menyampaikan evaluasi, bukan merengek mencari siapa yang mengancam secara digital,” tegasnya.
Ia menambahkan, selama teror tersebut masih bersifat digital dan belum mengarah pada ancaman fisik, pihaknya memilih untuk tidak teralihkan dari agenda perjuangan mereka. Namun jika intimidasi meningkat menjadi ancaman fisik, laporan ke aparat penegak hukum akan dipertimbangkan.
Meski demikian, Tiyo juga mengakui adanya keraguan terhadap institusi kepolisian. Ia menyinggung kasus kekerasan yang baru-baru ini melibatkan aparat, sehingga menimbulkan pertanyaan bagi publik.
Kritik terhadap Pemerintah dan Reformasi Polri
Dalam pernyataannya, Tiyo juga menyinggung situasi nasional, termasuk kasus kematian di NTT dan Tual, Maluku yang menurutnya mencerminkan sistem yang belum berpihak pada pendidikan dan keadilan. Ia menyebut Presiden perlu membuka mata dan telinga terhadap berbagai persoalan yang terjadi.
Menurutnya, berbagai komitmen reformasi, termasuk percepatan reformasi Polri yang sempat dibahas di kampus UGM, belum menunjukkan hasil signifikan.
“Kami merasakan perjuangan luar biasa, tetapi komitmen percepatan reformasi Polri belum membuahkan apa-apa,” katanya.

Di tengah teror yang terus berdatangan, Tiyo menegaskan solidaritas internal BEM UGM justru semakin kuat.
“Semakin ditekan, semakin melawan. Semakin diteror, semakin gacor. Persaudaraan kami semakin solid,” pungkasnya.
Ia juga menyampaikan dukungan moral kepada siapa pun yang menjadi korban kekerasan dan pembungkaman kebebasan berekspresi, serta menyebut mereka bukan sekadar korban, melainkan pejuang demokrasi.
Tiyo bahkan menyebut kondisi saat ini semakin mendekati “Reformasi Jilid 2”, dengan berbagai indikator sosial dan politik yang disebutnya telah terpenuhi. (Hadid Husaini)
