
Kesehatan, Kabarterdepan.com – Pernahkah kamu merasa sulit untuk berkonsentrasi, tiba-tiba lupa hal yang ingin dilakukan, atau otak terasa “berkabut”? Jika iya, mungkin kamu sedang mengalami brain fog.
Meski istilah ini sering terdengar, banyak yang belum memahami apa sebenarnya brain fog, penyebabnya, dan dampaknya pada kehidupan sehari-hari.
Dalam Podcast Kabar Terdepan episode terbaru bersama dr. Alfian Chandiardy, Rabu (22/1/2025), fenomena brain fog dibahas secara mendalam, termasuk kaitannya dengan kesehatan fisik, psikis, dan gaya hidup.
Apa Itu Brain Fog?
Istilah brain fog sering kali menggambarkan kondisi mental di mana seseorang merasa otaknya seperti “berkabut.” Menurut dr. Alfian Chandiardy, brain fog bukanlah kabut fisik di otak, melainkan gangguan fungsi otak seperti penurunan kemampuan berpikir, mengingat, menganalisis, dan bahkan memengaruhi gerakan tubuh.
“Kalau terjadi brain fog, berarti memorinya terganggu, berpikirnya terlambat, analisis lamban, dan tingkah lakunya pun melambat,” jelas dr. Alfian.
Penyebab Utama Brain Fog
Banyak faktor yang dapat menyebabkan brain fog, mulai dari kondisi medis hingga gaya hidup sehari-hari. Berikut beberapa penyebab yang diungkapkan dr. Alfian:
1.Pasca COVID-19: Infeksi COVID-19 memicu peradangan hebat di tubuh yang dikenal sebagai cytokine storm. Peradangan ini dapat memengaruhi neurotransmitter di otak, menyebabkan gejala seperti pelupa dan sulit berkonsentrasi, bahkan pada mereka yang tidak bergejala.
2. Gangguan Pencernaan: Pencernaan disebut sebagai “otak kedua” karena keterkaitannya dengan otak melalui gut-brain axis. Peradangan di pencernaan, alergi makanan, atau autoimun dapat memicu brain fog.
3. Gangguan Hormon: Kehamilan, menopause, atau gangguan hormonal seperti diabetes dengan kadar gula darah yang tidak stabil juga berkontribusi.
4. Kondisi Psikis: Stres berat, kecemasan, depresi, dan psikosis adalah beberapa faktor psikis yang sering kali memicu brain fog.
5. Penggunaan Obat-obatan: Beberapa obat seperti antihistamin generasi pertama, obat batuk pilek, hingga obat psikiatri dapat menyebabkan efek samping berupa brain fog.
6. Paparan Blue Light dari Gadget: Penggunaan gadget tanpa batas waktu yang jelas dapat memengaruhi konsentrasi dan kualitas tidur, memperparah gejala brain fog.
Gejala dan Durasi Brain Fog
Gejala brain fog meliputi kesulitan berbicara, tiba-tiba lupa hal yang ingin dilakukan, fokus yang terganggu, hingga kelambatan reaksi. Durasi brain fog bervariasi, mulai dari hitungan hari hingga bertahun-tahun, tergantung tingkat keparahan dan penyebabnya.
Cara Mengatasi Brain Fog
Dr. Alfian menekankan pentingnya gaya hidup sehat untuk menangani brain fog. Beberapa langkah yang dapat dilakukan meliputi:
– Pola Makan Sehat: Konsumsi makanan kaya serat seperti sayur dan buah, serta hindari makanan olahan dan ultra-proses.
– Hidrasi yang Cukup: Pastikan tubuh tidak kekurangan cairan karena dehidrasi juga dapat memicu brain fog.
– Olahraga Teratur: Aktivitas fisik membantu melancarkan aliran darah ke otak dan memperbaiki fungsi kognitif.
– Tidur yang Berkualitas: Tidur cukup dan berkualitas sangat penting untuk memulihkan fungsi otak.
– Kurangi Paparan Blue Light: Batasi waktu penggunaan gadget, terutama sebelum tidur.
Brain fog adalah kondisi yang sering kali tidak disadari namun dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Penyebabnya beragam, mulai dari penyakit fisik hingga gangguan gaya hidup.
Dengan pola hidup sehat, termasuk menjaga pola makan, tidur cukup, dan mengurangi stres, brain fog dapat dicegah dan diatasi. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan profesional medis jika kamu atau orang terdekat menunjukkan gejala brain fog. (Riris*)
