
Opini, Kabarterdepan.com — Banyak Gen Z masuk dunia kerja dengan satu hal sederhana: ingin berkembang dan dihargai. Mereka datang tepat waktu, menyelesaikan tugas, belajar hal baru, bahkan rela lembur. Namun, tak sedikit yang pulang dengan rasa lelah yang bukan cuma fisik, tapi juga emosional.
Menurut Deloitte Global Gen Z & Millennial Survey 2023, hampir 60% Gen Z merasa kurang diapresiasi di kantornya. Bukan hanya soal gaji, tapi juga soal pengakuan, kepercayaan, dan rasa dianggap penting.
Jaaziel (27), karyawan swasta, mengaku sering mempertanyakan dirinya sendiri.
“Capeknya bukan karena jobdesk, tapi karena merasa nggak pernah cukup. Kerja keras tapi tetap dianggap kurang, kita disuruh memahami keadaan kantor tapi kapan kantor mau memahami kita. Yang ada hanyalah capek,” ujarnya pelan.
Di banyak kantor, Gen Z sering diminta “banyak belajar” tanpa kejelasan batasan. Tugas bertambah, masa tugas memanjang, tapi penghargaan seolah tertinggal. Kesalahan kecil dibesar-besarkan, sementara usaha besar jarang disebutkan.
Minimnya Lingkungan Kerja Suportif
Padahal, survei yang sama mencatat bahwa Gen Z sangat menghargai lingkungan kerja yang suportif dan manusiawi. Mereka ingin didengar, diberi ruang untuk tumbuh, dan diperlakukan sebagai individu — bukan sekadar mesin.
Tekanan ekonomi membuat situasi ini makin berat. Banyak Gen Z memilih bertahan meski lelah, karena takut kehilangan penghasilan. Di usia yang seharusnya penuh eksplorasi, sebagian justru mulai akrab dengan burnout.
Media sosial kini dipenuhi curahan hati Gen Z. Bukan untuk mengeluh tanpa alasan, tapi sebagai tanda bahwa ada yang perlu diperbaiki. Mereka tidak menolak kerja keras, mereka hanya ingin jerih payahnya diakui.
Kisah Gen Z di dunia kerja bukan tentang generasi yang lemah. Ini tentang generasi yang berani jujur pada perasaannya. Tentang mereka yang ingin bertugas dengan hati, tanpa harus kehilangan diri sendiri. (Innka)
