Kericuhan Warnai Pembongkaran Tembok Pembatas Perumahan di Sidoarjo, Warga Laporkan Dugaan Kekerasan

Avatar of Redaksi
Pembongkaran
Suasana ricuh saat pembongkaran pembatas Perumahan Mutiara Regency dan Mutiara City, Sidoarjo. (Azies/kabarterdepan.com)

Sidoarjo, Kabarterdepan.com – Rencana pembukaan akses jalan antara Perumahan Mutiara Regency dan kawasan hunian baru Mutiara City berujung ricuh.

Proses pembongkaran tembok pembatas yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sidoarjo, Kamis (29/1/2026), mendapat penolakan keras dari warga hingga menyebabkan bentrokan fisik dan korban luka.

Ketegangan terjadi sejak pagi saat alat berat dan petugas mulai mengeksekusi pembongkaran di area perbatasan dua perumahan tersebut.

Warga Mutiara Regency menghadang proses tersebut karena merasa tidak pernah dilibatkan dalam dialog resmi antara pemerintah daerah dan pihak pengembang.

Salah seorang warga, Bagus, mengungkapkan bahwa penolakan yang dilakukan warga semata-mata bertujuan meminta penundaan eksekusi agar ruang musyawarah dapat dibuka. Namun, situasi di lapangan justru berkembang menjadi chaos.

Menurut Bagus, upayanya untuk menenangkan keadaan disalahartikan sebagai tindakan provokatif. Ia mengaku mendapat perlakuan kasar dari oknum aparat serta beberapa orang yang bukan warga perumahan.

“Saya hanya mencoba menahan agar tidak langsung dibongkar sebelum ada pembicaraan. Tapi justru saya diseret, dituduh macam-macam, lalu diperlakukan kasar,” ungkapnya sambil menunjukkan luka yang dialaminya.

Ia menambahkan, tindakan kekerasan tersebut dilakukan secara bersama-sama dan tidak memberi ruang dialog sebagaimana yang diharapkan warga. Bagus juga menyoroti keterlibatan pihak luar dalam eksekusi pembongkaran tersebut.

“Ada orang dari kampung belakang yang ikut turun tangan. Bahkan ada yang dikenal sebagai tokoh agama. Ini yang membuat kami bertanya-tanya, kenapa warga luar ikut mengeksekusi? Saya menduga ada skenario tertentu,” tegasnya.

Atas kejadian tersebut, Bagus menyatakan akan menempuh jalur hukum dengan melaporkan dugaan penganiayaan ke pihak kepolisian.

Warga Khawatir Keamanan Lingkungan Imbas Pembongkaran Tembok

Penolakan warga Mutiara Regency sendiri berangkat dari kekhawatiran akan hilangnya sistem keamanan lingkungan. Mereka menilai pembongkaran tembok akan menghapus konsep hunian tertutup (one gate system) yang sejak awal menjadi daya tarik utama perumahan tersebut.

Hal itu juga disampaikan oleh Naning, warga Mutiara Regency sekaligus kreator konten yang turut berada di lokasi kejadian. Ia menilai pembukaan akses jalan untuk perumahan baru seharusnya menjadi tanggung jawab penuh pengembang.

“Kami beli rumah di sini karena satu pintu, aman. Kalau mau bangun perumahan besar dengan ribuan penghuni, mestinya mereka siapkan akses sendiri. Jangan mengorbankan keamanan perumahan yang sudah ada,” ujarnya.

Kericuhan di lokasi tidak hanya melibatkan kaum pria. Sejumlah ibu rumah tangga dilaporkan turut menjadi korban dalam aksi dorong-dorongan yang terjadi saat aparat memaksa masuk area pembongkaran.

“Ada ibu-ibu yang terjatuh dan terinjak-injak. Kami akan cek lukanya. Kalau sampai ada yang harus dirawat, semua biaya harus ditanggung pihak yang bertanggung jawab,” tegas Naning.

Hingga berita ini diturunkan, Satpol PP Kabupaten Sidoarjo maupun pihak pengembang Mutiara City belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden kericuhan, dugaan kekerasan, serta tuntutan warga Mutiara Regency. (Azies)

Responsive Images

You cannot copy content of this page