
Mojokerto, Kabarterdepan.com – Memasuki Tahun Baru 2025, para pengusaha seperti produsen tahu dan tempe menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah UD Sari Agung, pabrik tahu yang berlokasi di Losari Timur, Gedeg, Mojokerto. Kenaikan harga bahan baku seperti kedelai, persaingan yang tidak adil, hingga daya beli masyarakat yang menurun menjadi persoalan besar bagi kelangsungan usaha.
Pengelola Operasional UD Sari Agung, Hari, menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan baku dan biaya produksi menjadi kendala utama.
“Kenaikan pasti. Jadi kalau HPP (Harga Pokok Produksi), itu kan barang bahan baku sama pekerja langsung. Nah, apalagi sekarang tahun baru 2025, otomatis sebagian sudah mulai naik. Bagian produksi kan sudah naik setiap tahun. Ibaratnya untuk pekerja naik, bahan kalau dinaikkan berarti double, naik semua,” ungkap Hari saat ditemui, Jumat (3/1/2025).
Selain itu, jumlah produksi tahu juga terpengaruh oleh keberadaan pesaing dari luar kota, khususnya produsen skala rumahan yang tidak memiliki izin resmi. Hari menjelaskan bahwa kondisi ini menciptakan persaingan yang tidak adil, terutama karena pelaku usaha tanpa izin tidak perlu membayar pajak dan beban regulasi lainnya.
“Banyak pesaing kita itu bukan dari lokal, tapi dari luar kota yang masuk ke sini. Mereka itu UMKM rumahan, nggak punya izin, nggak bayar pajak. Jadi sangat nggak fair sebenarnya. Ngapain dibuat peraturan kalau akhirnya seperti ini?” paparnya.
Tidak hanya soal produksi, daya beli masyarakat yang melemah sejak tahun 2024 juga turut memengaruhi pesanan tahu.
“Dan yang pasti semenjak tahun 2024, usaha ini kan agak sepi semua ya, daya beli turun jadi yang ngaruh banget,” imbuhnya.
Ketika ditanya soal kenaikan pesanan selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), Hari mengakui adanya peningkatan permintaan namun tidak signifikan.
“Kalau kemarin itu ada kenaikan pesanan, tapi tidak signifikan. Menurut saya hanya sekitar 10 persen,” pungkasnya.
Di tengah situasi ini, pelaku usaha seperti Hari berharap ada kebijakan pemerintah yang lebih tegas dan mendukung para produsen agar tetap bertahan menghadapi tantangan ekonomi di masa mendatang. (Riris*)
