Kementerian PPPA Prioritaskan Layanan Trauma Healing untuk Perempuan dan Anak Terdampak Bencana

Avatar of Jurnalis: Husni
Menteri PPPA Arifah Fauzi bicara pentingnya trauma healing untuk korban bencana. (Husni Habib/Kabarterdepan.com)
Menteri PPPA Arifah Fauzi bicara pentingnya trauma healing untuk korban bencana. (Husni Habib/Kabarterdepan.com)

Surabaya, Kabarterdepan.com-Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menegaskan pihaknya telah berkolaborasi dengan berbagai instansi untuk pelayanan trauma healing bagi para korban bencana di Sumatera, khususnya bagi ibu dan anak.

Arifah mengatakan perempuan dan anak menjadi prioritas utama pemerintah di wilayah terdampak bencana.

Trauma Healing Komprehensif

Trauma Healing ini dilakukan secara komprehensif bersama sejumlah lembaga dalam menyediakan kebutuhan spesifik yang tepat bagi perempuan dan anak.

“Kita kalau untuk perempuan dan anak pastinya yang diprioritaskan adalah kebutuhan spesifiknya. Kita juga saling berkoordinasi dengan lembaga lain agar dapat memberikan layanan yang cepat bagi korban bencana,” kata Arifah, Rabu (24/12/2025).

Dirinya menambahkan pihaknya juga mendirikan posko di lokasi bencana yang diberi nama Posko Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA 129). Disana bukan hanya memberikan layanan kebutuhan spesifik tetapi juga mempertemukan anak yang kehilangan orang tuanya di lokasi bencana.

“Kita juga ada posko disana, layanannya tidak hanya untuk kebutuhan spesifik tetapi juga kami membantu mencari posisi di anak yang terpisah dari orang tuanya,” tambahnya.

Posko SAPA 129 yang didirikan oleh Kementerian PPPA juga memberikan layanan antisipasi dan penanganan potensi kekerasan di lokasi pengungsian. Upaya tersebut diperkuat dengan penyediaan data terpilah oleh BNPB, mencakup jumlah perempuan, anak, lansia, hingga ibu menyusui, sebagai dasar penyaluran bantuan yang lebih tepat sasaran.

Dari sisi fasilitas, pemerintah juga mendorong penyediaan tenda pengungsian berbasis keluarga serta toilet terpisah antara laki-laki dan perempuan. Langkah ini dilakukan untuk meminimalkan risiko kerentanan di pengungsian.

“Pemerintah terus berupaya memberikan layanan terbaik bagi para korban bencana, khususnya perempuan dan anak,” pungkasnya.

Responsive Images

You cannot copy content of this page