Kecanduan Gula Apakah Berbahaya, Begini Penjelasannya!

Avatar of Redaksi
35F5E998 3EC4 463E AF09 3F249B197901
Potret Dr. Alfian Chandiarty dalam Kabar Terdepan Podcast, Rabu (12/2/2025) (Redaksi/Kabarterdepan.com)

Mojokerto, Kabarterdepan.com – Kecanduan gula atau sugar addiction menjadi topik pembahasan dalam episode terbaru Kabar Terdepan Podcast, yang tayang pada Rabu, 12 Februari 2025. Dalam episode ini, Dr. Alfian Chandiarty hadir sebagai narasumber untuk membahas dampak kecanduan gula serta langkah-langkah untuk mengatasinya.

Dr. Alfian menjelaskan bahwa kecanduan tidak hanya terbatas pada zat seperti narkotika dan alkohol, tetapi juga dapat terjadi pada zat adiktif lainnya, termasuk gula.

“Selama ini, kita lebih sering mendengar kecanduan narkotika, alkohol, atau zat adiktif lainnya. Padahal, gula juga dapat menyebabkan ketergantungan yang serius jika dikonsumsi berlebihan,” jelasnya.

Langkah Bertahap untuk Mengurangi Konsumsi Gula

Lebih lanjut, Dr. Alfian menegaskan bahwa mengatasi kecanduan gula tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan proses bertahap.

“Kecanduan, baik itu alkohol, rokok, atau gula, tidak bisa dihentikan secara tiba-tiba. Jika sebelumnya seseorang terbiasa mengonsumsi makanan manis seperti roti, tepung, atau minuman bergula, maka langkah awal yang bisa dilakukan adalah menggantinya dengan pilihan yang lebih sehat,” ungkapnya.

Salah satu cara yang disarankan adalah menggantikan makanan dan minuman manis dengan buah-buahan yang kaya serat. Namun, Dr. Alfian menekankan bahwa tidak semua buah bisa dikonsumsi secara bebas. Ia membagi buah menjadi tiga kategori berdasarkan kandungan gulanya:

Lampu Hijau – Buah yang bisa dikonsumsi setiap hari, seperti apel dan pir.

Lampu Kuning – Buah yang boleh dikonsumsi dalam jumlah terbatas, seperti pisang, semangka, dan jeruk.

Lampu Merah – Buah yang sebaiknya dihindari karena kandungan gulanya tinggi, seperti buah musiman tertentu.

“Jika seseorang ingin mengurangi ketergantungan terhadap gula, langkah awal yang bisa dilakukan adalah mengganti makanan dan minuman manis dengan buah yang tinggi serat. Dengan begitu, tubuh dapat menyesuaikan diri secara perlahan tanpa mengalami efek yang terlalu drastis,” tuturnya. (Inggrid*).

Responsive Images

You cannot copy content of this page