
Sleman, kabarterdepan.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus leptospirosis yang dalam setahun terakhir menunjukkan tren fluktuatif dan cenderung meningkat di awal tahun, khususnya saat masa transisi musim hujan.
Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Sleman, Khamidah Yuliati mengatakan karakteristik wilayah Sleman yang memadukan area persawahan luas dan permukiman padat menjadi faktor risiko tersendiri.
“Kondisi Sleman memang memerlukan kewaspadaan ekstra. Kombinasi lahan pertanian dengan pemukiman padat serta sistem irigasi aktif membuat potensi penularan cukup tinggi, terutama saat pancaroba,” ujarnya, Jumat (13/2/2026).
423 Kasus Leptospirosis, 9 Meninggal
Sepanjang 2025, tercatat 423 kasus leptospirosis dengan 9 kematian. Secara historis, kasus leptospirosis tertinggi banyak ditemukan di Kapanewon Moyudan, Minggir, Prambanan, dan Ngemplak yang didominasi lahan pertanian.
Namun, pola penyebaran kini mulai bergeser. Pada 2025, kasus juga ditemukan di wilayah padat penduduk seperti Depok, Ngaglik, Mlati, dan Pakem.
“Sekarang tidak hanya di daerah pertanian. Lingkungan padat penduduk juga memiliki risiko, terutama jika pengelolaan sampah kurang baik dan populasi tikus tidak terkendali,” jelas Khamidah.
Pengaruh Musim Hujan dan Faktor Risiko
Musim hujan disebut sangat berpengaruh terhadap peningkatan kasus. Genangan air dan banjir dapat membawa urin tikus yang terinfeksi bakteri Leptospira ke lingkungan sekitar manusia.
Selain itu, sampah organik yang menumpuk menjadi sumber makanan tikus, sehingga meningkatkan populasi hewan pengerat tersebut di kawasan padat penduduk.
Penularan umumnya terjadi melalui kontak langsung kulit, terutama yang memiliki luka dengan air atau tanah yang tercemar bakteri.

Fatalitas Jadi Perhatian
Dari sisi fatalitas, angka kematian (Case Fatality Rate/CFR) di Sleman menjadi perhatian karena kerap berada di atas 5–10 persen. Kematian umumnya terjadi akibat pasien terlambat datang ke fasilitas kesehatan.
“Sebagian besar pasien datang sudah dalam kondisi berat, seperti gagal ginjal atau gangguan hati. Ini yang membuat risiko kematian meningkat,” tegasnya.
Meski demikian, hingga saat ini status di Sleman masih dalam kewaspadaan ketat dan belum ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Namun, pemantauan dilakukan secara intensif layaknya penanganan darurat.
Penguatan Deteksi Dini
Untuk menekan kasus leptospirosis dan fatalitas, Dinkes Sleman memperkuat langkah integratif melalui puskesmas. Seluruh puskesmas telah dibekali Rapid Diagnostic Test (RDT) agar diagnosis dapat ditegakkan lebih cepat tanpa menunggu pemeriksaan laboratorium lanjutan.
Petugas surveilans juga diwajibkan melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) maksimal 24 jam setelah laporan kasus diterima.
Di sisi lain, program pengendalian tikus dilakukan melalui gerakan pemasangan jebakan (trapping) secara serentak serta gropyokan tikus secara periodik di lahan pertanian, bekerja sama dengan Dinas Pertanian. Edukasi pemasangan jebakan tikus di rumah tangga juga terus digencarkan.
“Puskesmas menjadi gatekeeper. Jika ada gejala yang mengarah pada perburukan, pasien segera dirujuk ke rumah sakit,” jelas Khamidah.
Imbauan untuk Warga
Dinkes mengimbau warga, terutama petani, peternak, dan masyarakat di wilayah rawan banjir, untuk meningkatkan kewaspadaan.
Langkah pencegahan yang dianjurkan antara lain menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti sepatu bot dan sarung tangan saat bekerja di sawah atau membersihkan selokan, serta mencuci tangan dan kaki dengan sabun setelah terkena air kotor atau lumpur.
Apabila muncul gejala seperti demam mendadak, nyeri otot terutama di bagian betis, dan mata tampak kekuningan, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke puskesmas.
Tantangan dan Target Zero Death
Khamidah mengakui, tantangan utama saat ini adalah rendahnya kesadaran masyarakat dalam menggunakan APD karena dianggap merepotkan, serta kebiasaan menunda pemeriksaan saat mengalami demam.
“Target kami adalah zero death. Kami ingin menurunkan angka fatalitas hingga nol melalui penguatan deteksi dini di tingkat puskesmas dan kader kesehatan,” tegasnya.
Dengan sinergi lintas sektor dan peningkatan kesadaran masyarakat, Dinkes Sleman berharap penyebaran leptospirosis dapat ditekan dan tidak menimbulkan korban jiwa di tahun mendatang. (Hadid Husaini)
