Kasus Kemasan Styrofoam di MBG Menguat, Dinkes Sampang Ingatkan Risiko Kesehatan

Avatar of Redaksi
Temuan kemasan styrofoam untuk MBG di Sampang. (fais/kabarterdepan.com)
Temuan kemasan styrofoam untuk MBG di Sampang. (fais/kabarterdepan.com)

Sampang, kabarterdepan.com – Menanggapi polemik penggunaan kemasan styrofoam pada distribusi makanan bergizi gratis (MBG), Plt Kepala Dinas Kesehatan & KB Kabupaten Sampang, dr. Dwi Herlinda Lusi Harini, memberikan penjelasan dari sudut pandang kesehatan masyarakat.

Menurutnya, styrofoam sejauh ini memang masih banyak digunakan oleh masyarakat karena sifatnya yang murah, ringan, dan mudah diperoleh. Namun, dr. Lusi menegaskan bahwa ada aspek-aspek kesehatan yang harus diperhatikan secara serius.

“Terkait penggunaan styrofoam sebagai kemasan makanan, perlu kita sikapi dengan bijak. Secara umum masih banyak dipakai karena faktor ekonomi dan kepraktisan, tetapi tetap ada risiko yang perlu dipahami,” jelasnya saat diwawancarai kabarterdepan melalui pesan whatsapp, Jumat (12/12/2025).

Potensi Zat Kimia Kemasan Styrofoam

dr. Lusi memaparkan bahwa kemasan styrofoam memiliki potensi melepaskan zat kimia tertentu, terutama bila digunakan untuk makanan dengan suhu sangat panas, berminyak, atau bersifat asam.

“Dalam kondisi seperti itu, potensi migrasi bahan kimia bisa meningkat. Untuk paparan jangka panjang, tentu berisiko mengganggu kesehatan. Namun untuk penggunaan sekali-sekali dalam kondisi normal, risikonya relatif rendah,” terangnya.

Selain aspek kimia, dr. Lusi juga menyoroti faktor higienitas. Menurutnya, banyak kemasan styrofoam yang beredar tanpa standar mutu jelas, sehingga risiko kontaminasi tetap ada.

Dinas Kesehatan sendiri, lanjutnya, tidak serta-merta melarang penggunaan styrofoam. Pihaknya lebih menekankan pendekatan persuasif agar masyarakat maupun penyelenggara program MBG memilih alternatif yang lebih aman.

“Posisi kami adalah mendorong penggunaan kemasan yang lebih aman dan tidak mengganggu kesehatan. Namun kami juga paham bahwa perubahan tidak bisa instan. Edukasi harus bertahap, dan sebagian masyarakat masih mempertimbangkan faktor biaya dan ketersediaan bahan,” ujarnya.

Imbauan Dinkes Sampang

dr. Dwi kemudian menegaskan tiga imbauan utama dari Dinas Kesehatan kepada masyarakat dan penyedia layanan makanan:

• Menghindari penggunaan styrofoam untuk makanan yang sangat panas atau berminyak,
• Memilih kemasan alternatif yang lebih aman bila memungkinkan,
• Menggunakan styrofoam hanya pada kondisi yang tidak berisiko tinggi.

dr. Lusi berharap polemik penggunaan sterofoam dalam program MBG dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran bersama tentang pentingnya keamanan pangan bagi anak-anak sekolah.

“Intinya, jangan sampai kemasan yang digunakan justru memberikan risiko kesehatan. Edukasi dan kehati-hatian harus menjadi prioritas,” tutupnya

Hingga berita ini di terbitkan, pihak SPPG Tanggumong 2 belum dapat di hubungi pihak kabarterdepan.com. (fais)

Responsive Images

You cannot copy content of this page