Kasus Ivan Sugianto Ditahan, Anak Menyesal dan Tulis Surat Haru

Avatar of Redaksi
Potret ayah dan ada beserta isi surat Excel, anak Ivan Sugianto. (Redaksi / Kabarterdepan.com)
Potret ayah dan anak beserta isi surat Excel, anak Ivan Sugianto. (Redaksi / Kabarterdepan.com)

Surabaya, Kabarterdepan.com – Sosok Ivan Sugianto mendadak viral setelah video aksinya memaksa seorang siswa SMA berinisial EN bersujud dan menggonggong tersebar luas di media sosial.

Aksi tersebut terjadi karena Ivan tidak terima anaknya, Excel, disebut sebagai “anak pudel” akibat potongan rambutnya.

Ivan dilaporkan oleh pihak sekolah EN ke Polrestabes Surabaya dan ditangkap di Bandara Juanda, Kamis, (14/11/2024). Ia kini resmi menjadi tersangka dan dikenakan Pasal 80 Ayat 1 UU Perlindungan Anak serta Pasal 335 Ayat 1 KUHP, dengan ancaman hukuman maksimal 3 tahun penjara.

Sementara itu, kasus ini tidak hanya berdampak pada Ivan, tetapi juga keluarganya. Excel, anak Ivan, merasa bersalah atas insiden yang membuat ayahnya mendekam di penjara. Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, Excel membacakan surat haru untuk sang ayah.

“Papa, gimana kabarnya di sana? Aku minta maaf ya, Pa. Gara-gara aku, malah Papa yang kena masalah. Kalau waktu bisa diputar, aku nggak akan bilang kalau aku dibully,” tulis Excel dalam suratnya.

Excel juga mengungkapkan bahwa ia dan ibunya kini takut keluar rumah karena menjadi sasaran ejekan publik.

“Mama dan aku takut keluar rumah, Pa. Kalau keluar, kami sering difoto-foto, diejek, bahkan dipanggil dengan sebutan yang menyakitkan. Aku tahu semua ini gara-gara aku. Aku yang salah, maafin ya, Pa. Aku rela dipanggil pudel seumur hidup, asal Papa nggak masuk penjara lagi,” lanjut Excel.

Ia menutup suratnya dengan menyebut ayahnya sebagai pahlawan.

“Papa adalah pahlawan Excel. Aku nggak akan pernah lupa itu, Pa,” tulisnya.

Kondisi mental keluarga Ivan pun terguncang. Sang istri memilih mengurung diri di rumah, sementara Excel terus menyalahkan dirinya sendiri. Dalam suratnya, Excel menyebut ayahnya sebagai “pahlawan” dan berharap masalah ini segera berakhir.

Kasus ini memicu perdebatan publik mengenai tindakan orang tua dalam membela anak, yang dalam kasus Ivan dianggap melampaui batas.

Kini, Ivan harus mempertanggungjawabkan tindakannya di hadapan hukum, sementara keluarganya berusaha bertahan menghadapi tekanan sosial yang datang bertubi-tubi. (Firda*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page