
Semarang, Kabarterdepan.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang meluncurkan Program Gerakan Sekolah Sehat (GSS), sebuah proyek yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan para pelajar Kota Semarang.
Launching GSS dilakukan di TK Negeri Pedurungan, Kota Semarang, kemarin (Rabu, 7/8/2024). Peluncuran program tersebut dilakukan Kepala Dinas Pendidikan Bambang Pramusinto mewakili Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu.
“GSS ini merupakan inisiatif penting guna meningkatkan derajat kesehatan peserta didik dan lingkungan satuan pendidikan. Harapannya, kita dapat menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, dan nyaman bagi seluruh warga sekolah,” kata Bambang Pramusinto di kantornya, Kamis (8/8/2024).
Bambang mengungkapkan, Wali Kota Semarang dalam beberapa waktu terakhir melihat adanya peningkatan kasus diabetes hingga ginjal pada anak yang disebabkan pola hidup tidak sehat, termasuk konsumsi gula berlebih, makanan ultra-proses, dan cepat saji.
Kondisi tersebut, lanjutnya, mesti menjadi pengingat dan pendorong bagi semua pihak untuk kembali pada pola makan seimbang, menjaga higienitas, serta mengurangi konsumsi makanan tidak sehat.
“Termasuk melalui GSS ini harapannya dapat mengedukasi dan menanamkan pola hidup sehat sejak dini kepada para siswa, siswi, keluarga dan lingkungan sekolah,” kata Bambang.
Sebagai pilot project program tersebut, TK Negeri Pedurungan ditunjuk menjadi sekolah pelopor penerapan GSS.
Tidak hanya untuk level kota, TK Negeri Pedurungan juga menjadi sekolah percontohan yang mengimplementasikan pola hidup sehat tingkat Provinsi Jawa Tengah.
“Melalui GSS ini, kita tanamkan nilai hidup sehat sejak dini kepada generasi penerus yang akan menjadi pilar kemajuan Indonesia mendatang,” tambahnya.
Bambang menjelaskan ada lima pilar yang menjadi perhatian pemerintah dalam penerapan Sekolah Sehat. Yakni Sehat Bergizi, Sehat Fisik, Sehat Imunisasi, Sehat Jiwa dan Sehat Lingkungan.
“Yang namanya kecerdasan, sehat mental, fisik dan lain-lain ini kan harus dibentuk dari kecil. Saat ini kan banyak anak yang over gula, nah ini mulai diedukasi supaya nanti mereka bisa menjadi terbiasa untuk pola hidup sehat, dan ke depannya mereka dewasa bisa menjadi manusia yang sehat, terbiasa dengan pola makan sehat,” paparnya.
Terkait penerapan dari lima pilar tersebut, Bambang mengaku Dinas Pendidikan tidak bisa berdiri sendiri. Ia mencontohkan lokasi TK Negeri Pedurungan yang berdekatan dengan Tempat Pembuangan Sampah (TPS).
Untuk menciptakan pilar Sehat Lingkungan di sekolah tersebut, dibutuhkan peran dari stakeholder terkait seperti kelurahan, kecamatan hingga Dinas Lingkungan Hidup.
“Modelnya ada di TK Negeri Pedurungan, nanti bisa direplikasi ke sekolah-sekolah lain, baik SD maupun SMP. Sebenarnya sudah ada embrio, seperti di SD dan SMP, embrio Sekolah Sehat, nanti tinggal diimprovisasi,” pungkasnya. (Ahmad)
