
Yogyakarta, kabarterdepan.com – Sebanyak 413 lapak turut meramaikan Kampung Ramadan Jogokarian ke-22 di Kota Yogyakarta. Perhelatan Kampung Ramadan ke-22 di kawasan bukan sekadar agenda religi tahunan.
Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi penggerak ekonomi warga dengan menghadirkan ratusan pelaku usaha mikro yang memanfaatkan momentum Ramadan 1447 Hijriah.
Dari jumlah tersebut, 248 lapak diisi oleh warga Jogokariyan, sementara sisanya berasal dari luar kampung.
Komposisi ini menunjukkan kuatnya partisipasi masyarakat lokal dalam menggerakkan ekonomi berbasis komunitas.
Kampung Ramadan Jadi Peluang Usaha
Ketua Takmir Masjid Jogokariyan, Muhammad Rizki Rahim, menyebut keterlibatan warga menjadi kekuatan utama Kampung Ramadan Jogokariyan. Selain menjadi ruang ibadah dan silaturahmi, kawasan ini juga membuka peluang usaha yang signifikan bagi masyarakat sekitar.
Salah satu pedagang, Agus, warga Jogokariyan, merasakan langsung dampak ekonomi dari kegiatan tersebut. Produk andalannya, Lumpia Beef, yang telah dirintis selama dua tahun, kini menjadi salah satu menu yang banyak dicari pengunjung.
“Alhamdulillah sudah masuk tahun kedua dan jadi salah satu produk yang trending,” ujarnya.
Ia mengakui persaingan semakin ketat seiring bertambahnya jumlah pedagang setiap tahun. Namun, menurutnya, konsistensi menjaga kualitas rasa menjadi kunci bertahan di tengah kompetisi.
“Saingan makin banyak, tapi kami tetap pertahankan kualitas. Kalau Ramadan, kami full di Jogokariyan. Harapannya semoga ramai dan lancar,” katanya.

Selain berdagang di Kampung Ramadan, Agus juga rutin membuka lapak di Pasar Jumat Berkah Balaikota serta berjualan di sekitar Masjid Jogokariyan pada hari biasa. Momentum Ramadan dinilai menjadi periode paling strategis untuk meningkatkan omzet.
Apresiasi Pemkot Yogyakarta
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Yogyakarta, Yunianto Dwi Sutono, turut mengapresiasi geliat ekonomi yang tumbuh dari kegiatan tersebut. Ia menilai meningkatnya aktivitas perdagangan menjadi kabar baik bagi masyarakat.
“Ramainya pengunjung adalah berkah. Aktivitas ekonomi yang meningkat tentu membawa dampak positif,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan agar peningkatan ekonomi tetap diiringi dengan tanggung jawab menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan.
Kampung Ramadan Jogokariyan kembali membuktikan diri sebagai model pemberdayaan berbasis masjid.
Di tengah suasana religius dan semangat kebersamaan, denyut ekonomi warga pun ikut bergerak, menjadikan Ramadan tak hanya penuh makna spiritual, tetapi juga membawa berkah kesejahteraan. (Hadid Husaini)
Editor: Ahmad
