
Kabupaten Mojokerto, Kabarterdepan.com – Banjir masih menggenangi dua desa di Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto yaitu di Desa Tempuran dan Desa Ngingasrembyong.
Evakuasi dan pendirian posko bantuan bagi warga yang mengungsi telah dikerahkan oleh Pemerintah Kabupaten Mojokerto bersama Forkopimcam, BPBD, Tagana, PMII, Polisi, TNI, PUPR, Dishub sampai Satpol PP.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto, Ir. Rinaldhi Rizal Sabirin, ST, MBA., memberikan tanggapannya terkait penanganan darurat banjir.
Rinaldhi menjelaskan jika banjir yang saat ini menggenangi dua desa di Sooko tersebut belum mengalami penurunan yang signifikan. Banjir disebabkan karena wilayah dua desa itu dekat dengan sungai yang mengalir dari Kabupaten Jombang.
“Dikarenakan banjir yang ada di Desa Tempuran dan Ngingasrembyong itu adalah kiriman kalau nggak salah lebih dari 10 desa di kabupaten tetangga kita,” ungkapnya dikutip dari video Tiktoknya @aldirizal10, Rabu (11/12/2024).
Rinaldhi melanjutkan jika kiriman air sungai yang meluap imbasnya ke daerah paling rendah di Mojokerto yaitu Desa Tempuran dan Ngingasrembyong.
“Jadi itu kiriman dan di sana belum turun sehingga imbasnya ke Desa Tempuran dan Ngingasrembyong yang memang merupakan daerah paling rendah sebelum sungai berantas,” lanjutnya.
Rinaldhi juga menanggapi soal sampah di sungai yang baru dilakukan pembersihan. Ia menyampaikan bahwa semua sungai beserta bangunannya itu adalah kewenangan pemerintah pusat, ada beberapa yang didelegasikan ke provinsi tapi tidak ada yang menjadi kewenangan pemerintah kabupaten sehingga tugas membersihkan sampah bukan kewenangan Dinas PUPR.
“Tugas membersihkan sampah itu bukanlah tugas dari pada instansi kami,” ujarnya.
Namun, pihaknya tetap berupaya membantu penanganan banjir dan meminimalisir terjadinya bencana lanjutan.
“Bagaimana caranya paling tidak kami bisa meminimalisir dampak bencana supaya tidak meluas terkait dengan sampah. Kami berharap ada deteksi dini dari masyarakat sekitar karena masyarakat sekitar yang melihat sungai di depannya apabila sudah mulai ada eceng gondok,” tegasnya.
Rinaldhi mengungkapkan, pihaknya telah melakukan normalisasi sungai saat musim kemarau.
“Sementara kalau di musim kemarau itu kami menormalisasi sungai-sungai atau afur. Jadi total tahun ini sudah berjalan, 20 kilo kami normalisasi di 38 desa,” imbuhnya.
“Jadi banjir ini adalah salah bersama sedangkan sampah itu urusan bersama, yang jelas ini adalah tanggung jawab kita bersama,” tandasnya. (Riris*)
