
Surabaya, kabarterdepan.com- Kesenjaan gender di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah yang hingga kini belum terselesaikan. Wanita kerap kali terperangkap dalam fenomena women gender trap, yang merupakan konsep yang menggambarkan bagaimana perempuan kerap terperangkap dalam peran dan ekspektasi sosial yang berkaitan dengan gender mereka.
Hal ini lah yang akhirnya mendasari Mantan polisi wanita (polwan) senior, Irjen Pol (Purn.) Dr. Dra. Juansih untuk menulis buku berjudul “Women in Law Enforcement: Mendobrak Gender Trap Polisi Wanita”. Buku ini bercerita tentang pengalamannya menghadapi fenomena women gender trap di dunia kepolisian.
“Walaupun perempuan kini banyak berkiprah di berbagai bidang, untuk posisi kepemimpinan, perempuan tetap dianggap belum layak sejajar dengan laki-laki,” ungkap Juansih, di Surabaya, Kamis (11/09/2025).
Women gender trap mencakup beragam bentuk diskriminasi, mulai dari stereotip, kekerasan berbasis gender, hingga hambatan untuk mencapai posisi kepemimpinan. Salah satu stereotip yang kerap beredar di masyarakat adalah istri harus selalu mengikuti suami. Hal ini yang seringkali menjadi hambatan bagi perempuan untuk menduduki posisi penting di suatu organisasi atau instansi.
“Bagaimana kalau kita berpisah, berjauhan dari suami, dan bagaimana anaknya. Nah hal ini kan menuntut manajemen waktu yang baik. Dukungan dari orang terdekat seperti saudara tentunya sangat diperlukan,” tambahnya.
Juansih berharap dengan adanya buku “Women in Law Enforcement: Mendobrak Gender Trap Polisi Wanita” dapat menjadi penunjuk bagi perempuan agar dapat mengatasi halangan dan tantangan dalam mengatasi permasalahan gender yang masih kental di masyarakat.
“Buku ini saya harapkan dapat menjadi guide wanita agar mereka lebih siap mengatasi tantangan terkait women gender trap,” harapnya
“Banyak perempuan yang berkarier hanya untuk memenuhi tuntutan hidup, bukan untuk aktualisasi diri menjadi seorang profesional,” pungkasnya.
Berdasarkan data World Economic Forum (WEF) tahun 2024, meskipun perempuan mengisi 41,2 persen dari total lapangan kerja global, jumlah mereka di posisi kepemimpinan masih sangat minim. Di kepolisian, representasi polwan di jajaran pimpinan strategis bahkan jauh lebih rendah. (Husni Habib)
