Intip Tren Wisata Saat ini, ‘Coolcations’ yang Bikin Kamu Gak Mau Pulang ke Kota!

tren wisata saat ini
Berkemah menjadi salah satu tren wisata saat ini yang sangat digemari. (Royal 4)

Wisata, Kabarterdepan.com – Pernah nggak sih kamu merasa kalau cuaca belakangan ini lagi panas-panasnya sampai bikin emosi gampang naik? Kalau iya, kamu nggak sendirian.

Fenomena suhu ekstrem global ternyata membawa pengaruh besar pada tren wisata saat ini, di mana orang-orang mulai meninggalkan mimpi berjemur di pantai dan beralih mencari pelarian ke tempat-tempat yang dinginnya bikin tulang bergetar.

Selamat datang di era Coolcations—sebuah istilah keren untuk liburan yang fokus utamanya adalah mencari suhu sejuk demi kewarasan mental dan kenyamanan fisik.

Semua Orang Mendadak Jadi “Anak Gunung”?

Dulu, liburan musim panas atau akhir tahun identik dengan kacamata hitam dan sunblock di pinggir pantai. Namun, data dari berbagai platform perjalanan menunjukkan adanya pergeseran dalam tren global pariwisata.

Gelombang panas yang melanda Eropa, Amerika, hingga Asia membuat destinasi tropis yang terlalu terik mulai kehilangan pesonanya. Orang-orang kini lebih memilih untuk memakai jaket puffer dan menyeruput kopi hangat di depan perapian kabin kayu.

Perubahan ini bukan cuma soal suhu, tapi soal pengalaman deskriptif yang ditawarkan. Bayangkan kamu bangun pagi bukan karena suara klakson, tapi karena embun yang mengetuk jendela kaca kabinmu.

Udara yang masuk ke paru-paru terasa tajam, bersih, dan dingin—sebuah kemewahan yang sulit ditemukan di tengah beton kota yang menyerap panas. Inilah esensi dari pelarian yang dicari para traveler masa kini.

Rekomendasi Kamu Bisa Merasakan Dingin

Jika kamu ingin mulai merencanakan liburan bertema coolcations, ada beberapa tempat yang wajib masuk daftar:

  • Dataran Tinggi Dieng (Jawa Tengah): Tempat paling pas buat merasakan sensasi “salju” lokal lewat fenomena embun upas. Jangan lupa bawa jaket tebal karena suhunya bisa menyentuh angka minus!

  • Tawangmangu (Karanganyar): Udara pegunungan yang segar di lereng Gunung Lawu ini menawarkan banyak kafe estetik dengan pemandangan lembah yang sering tertutup kabut.

  • Batu (Jawa Timur): Kota ini sudah lama dikenal sebagai suaka udara dingin dengan pemandangan perkebunan apel dan pegunungan yang mengelilinginya.

  • Hokkaido (Jepang): Untuk skala global, Hokkaido adalah raja dari segala destinasi dingin di Asia, terutama saat musim dingin tiba dengan salju kualitas powder-nya yang legendaris.

danau segara anak 12
Danau Segara Anak di Gunung Rinjani. (TDA Runners)

Masa Depan Tren Wisata Saat Ini

Jika kita melihat lebih jauh ke depan, tren wisata saat ini diprediksi akan semakin didominasi oleh konsep Slow Adventure di wilayah-wilayah sub-arktik atau dataran tinggi yang terpencil.

Para pelancong tidak lagi sekadar ingin “datang, foto, pulang,” tetapi mereka ingin tinggal lebih lama di tempat yang menawarkan kesejukan alami.

Teknologi pendingin ruangan (AC) mulai dianggap sebagai solusi artifisial; orang lebih mendambakan angin pegunungan yang asli.

Diprediksi, akomodasi seperti glass igloos, kabin tengah hutan, dan penginapan di tepi danau glasial akan mengalami lonjakan pemesanan hingga dua kali lipat. Wisatawan mulai sadar bahwa kesehatan mental mereka sangat berkaitan dengan lingkungan termal tempat mereka berada.

Liburan yang sejuk memberikan efek relaksasi yang lebih cepat dibandingkan berdesakan di bawah terik matahari yang menyengat kulit.

Nah, buat kita yang tinggal di garis khatulistiwa, Indonesia punya “harta karun” yang luar biasa untuk mendukung tren ini. Tren wisata di Indonesia belakangan ini menunjukkan lonjakan minat yang masif pada destinasi-destinasi yang punya elevasi tinggi.

Kalau dulu Bali selalu identik dengan Kuta atau Seminyak, sekarang orang-orang lebih memilih bergeser ke arah utara menuju Kintamani atau Bedugul yang suhunya bisa bikin menggigil di malam hari.

Di Pulau Jawa, tempat-tempat seperti Dieng di Jawa Tengah atau kawasan lereng Gunung Bromo di Jawa Timur kini jadi primadona.

Bahkan, tren glamping (camping mewah) di daerah sejuk seperti Lembang atau Ciwidey bukan lagi sekadar hobi musiman, melainkan kebutuhan mingguan bagi warga Jakarta dan Bandung yang ingin “mendinginkan kepala”.

Indonesia punya keunggulan unik: kita punya pegunungan hijau yang subur yang menawarkan pemandangan magis sekaligus suhu yang pas untuk self-healing.

Industri pariwisata dipaksa untuk beradaptasi. Hotel-hotel di dataran rendah sekarang mulai berinvestasi lebih besar pada sistem sirkulasi udara yang hijau, sementara pengembang properti wisata mulai melirik lahan-lahan di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut sebagai lokasi investasi masa depan.

Ini adalah pergeseran pola konsumsi yang menarik. Wisatawan sekarang lebih menghargai keberadaan pohon-pohon besar dan hutan kota karena mereka tahu itulah “pendingin” alami yang paling efektif. Secara semantik, kata “liburan” kini makin identik dengan kata “adem”.

Jadi, tren wisata saat ini bukan lagi soal mengejar matahari, tapi soal bagaimana kita bisa menemukan tempat untuk bersembunyi darinya.

Coolcations adalah cara kita mencintai diri sendiri dengan memberikan tubuh waktu untuk beristirahat dari panasnya tuntutan hidup dan suhu bumi yang kian meningkat. Apakah kamu sudah siap mengemas sweater favoritmu dan mematikan AC di rumah untuk sementara waktu?

Dunia punya banyak sudut dingin yang menunggu untuk dijelajahi. Jangan sampai kamu ketinggalan untuk merasakan sensasi bangun pagi ditemani kabut dan secangkir teh hangat di tengah hutan. (*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page