Indeks Optimisme 2025: Generasi Muda Lebih Pesimis di Tengah Gejolak Ekonomi dan Politik

Avatar of Redaksi
MEITU 20250808 210151545
Potret Tren Indeks Optimisme Masyarakat Indonesia mengalami penurunan. (GNFI)

Jakarta, Kabarterdepan.com – Optimisme masyarakat Indonesia pada 2025 mengalami penurunan tajam. Survei terbaru Indeks Optimisme 2025 yang dilakukan Good News From Indonesia (GNFI) dan GoodStats menunjukkan skor rata-rata 5,51, turun drastis dari 7,77 pada 2023.

Angka ini menempatkan publik di kategori “netral”, sebuah posisi yang merefleksikan keinginan untuk tetap berharap, namun dibayangi kecemasan dan ketidakpastian.

Hasil survei ini mengungkap bahwa penurunan optimisme didorong oleh berbagai faktor, mulai dari gejolak ekonomi, politik yang memanas, hingga dampak konflik global.

Sebanyak 67,6% responden mengaku menyaksikan atau mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam enam bulan terakhir, 55,8% merasakan kenaikan harga kebutuhan pokok yang “sangat signifikan”, dan 33,8% mengalami penurunan pendapatan rumah tangga.

Di antara lima dimensi yang diukur, sektor politik dan pemerintahan mencatat skor terendah, yakni hanya 3,87 atau masuk kategori “pesimis”. Mayoritas responden ragu perilaku korupsi akan menurun, pesimis terhadap transparansi pemerintah, dan khawatir ruang partisipasi publik dalam kebijakan semakin menyempit.

Yang menarik, survei ini juga menemukan fakta bahwa generasi muda yang kerap diasosiasikan dengan semangat dan idealisme ternyata menjadi kelompok paling pesimis.

Responden usia 17–25 tahun hanya mencatat skor optimisme 5,45, lebih rendah dibanding kelompok usia 46–55 tahun yang mencapai 6,21. Tekanan ekonomi, persaingan ketat di dunia kerja, dan ketidakpastian global disebut menjadi penyebab utama.

Meski demikian, dua sektor masih menjadi sumber harapan: Budaya dan Kreativitas (6,75) serta Teknologi dan Inovasi (6,69), keduanya masuk kategori “optimis”. Sebanyak 70,2% responden yakin budaya Indonesia akan semakin dikenal dunia, sementara 66,8% percaya anak muda mampu memimpin inovasi digital.

CEO GNFI, Wahyu Aji, menekankan bahwa optimisme harus berpijak pada kenyataan. Hal ini terlihat jelas dari temuan survei: 67,6% responden mengaku menyaksikan PHK di lingkungan mereka dalam enam bulan terakhir, 55,8% merasakan kenaikan harga kebutuhan pokok yang signifikan, dan 33,8% mengalami penurunan pendapatan rumah tangga.

Aji menjelaskan, survei tahun ini menggunakan pendekatan kontekstual. Setiap pertanyaan tidak hanya meminta respon cepat, optimis atau pesimis, tetapi juga memberikan gambaran kondisi terkini.

Dengan begitu, jawaban yang muncul diharapkan lahir dari pertimbangan matang, bukan sekadar respons spontan.

“Kami melihat, menjaga optimisme justru harus berangkat dari realitas. Data inilah yang menjadi dasar bagi kita untuk membangun narasi optimisme yang lebih membumi,” tegasnya.

Laporan ini menegaskan bahwa optimisme merupakan modal sosial yang sifatnya dinamis.

Meski saat ini kondisinya cenderung melemah, modal tersebut dapat diperkuat melalui kebijakan responsif, kepemimpinan yang kredibel, dan narasi harapan yang realistis.

Dalam situasi penuh ketidakpastian, optimisme bukan hanya soal sikap mental, tetapi juga menjadi kapasitas strategis bangsa.

Laporan lengkap Indeks Optimisme 2025 dapat diakses melalui tautan bit.ly/ReportIndeksOptimisme2025. (*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page