
Nasional, Kabarterdepan.com – Pengacara Hotman Paris Hutapea melontarkan kritik tajam terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok terkait dugaan mega korupsi di tubuh Pertamina.
Hotman mempertanyakan mengapa Ahok baru berbicara sekarang, padahal saat menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina, ia memiliki wewenang untuk bertindak langsung.
Sebelumnya, Ahok menyatakan siap membongkar skandal yang lebih besar di Pertamina dan bahkan dengan senang hati bersedia dipanggil oleh Kejaksaan Agung untuk dimintai keterangan.
Namun, pernyataan itu justru memicu respons keras dari Hotman, yang menilai Ahok seharusnya sudah bertindak sejak dulu jika memang mengetahui adanya dugaan penyimpangan.
Menurut Hotman, posisi Komisaris Utama bukanlah jabatan tanpa kuasa. Ia menegaskan bahwa seorang Komisaris Utama memiliki kewenangan penuh untuk menindak direksi yang terindikasi melakukan pelanggaran, termasuk jika ada indikasi penyimpangan besar seperti dugaan permainan dalam distribusi bahan bakar.
Hotman menyoroti bahwa selama menjabat, Ahok tidak pernah menunjukkan tanda-tanda adanya pelanggaran besar di tubuh Pertamina. Ia heran mengapa Ahok kini justru bersuara lantang setelah tak lagi menjabat.
“Seorang Komisaris Utama berwenang mendiskors direksi untuk sementara. Seorang komisaris berhak melakukan pemeriksaan apabila ada pelanggaran apapun, apalagi kalau ada indikasi pelanggaran mega dan permainan campur-campur bensin di Pertamina,” ungkap Hotman dalam video yang beredar.
Hotman juga menegaskan bahwa Ahok bukan hanya sekadar Komisaris Utama, tetapi juga Ketua Dewan Komisaris Holding Company yang mengawasi seluruh induk Pertamina.
Ia pun mempertanyakan, jika memang ada dugaan korupsi besar di Pertamina, mengapa Ahok tidak mengambil tindakan tegas saat masih menjabat.
Selain itu, Hotman menyinggung keputusan Ahok yang memilih mundur dari jabatan tanpa membawa keluhan apa pun mengenai skandal yang kini ia bicarakan. Ia bahkan menyebut bahwa jika Ahok takut mengungkapkan saat itu, maka ia adalah seorang pengecut.
“Waktu dia mengundurkan diri, tidak ada keluhan apapun. Tidak ada alasan takut, kalau kau takut berarti kau pengecut!” kata Hotman tegas.
Lebih lanjut, Hotman membandingkan kepemimpinan Ahok dengan budaya di Jepang, di mana seorang pimpinan yang gagal akan langsung mengakui kesalahannya dan mundur.
Hotman menekankan bahwa sebagai Komisaris Utama, Ahok seharusnya memiliki keberanian untuk menindak dugaan korupsi jika memang terjadi.
“Di Jepang kalau seorang pimpinan gagal dia langsung mundur dan mengaku salah, ini dia komisaris loh. Komisaris berhak mendiskors direktur utama kalau melihat ada pelanggaran,” tambahnya.
Tak hanya itu, Hotman juga menyoroti bahwa Ahok tetap menerima bonus dan gaji miliaran rupiah saat mundur, tanpa adanya protes atau keluhan terhadap dugaan korupsi yang kini ia soroti.
“Waktu kau mundur, kau dengan tenang mengambil uang bonus miliaran dan gaji komisarismu. Tidak ada satupun keluhan,” sindirnya.
Hotman pun menilai pernyataan Ahok saat ini terkesan hanya mencari perhatian dan tidak sesuai dengan tindakannya saat masih berada di dalam struktur Pertamina.
“Sekarang cuap-cuap, seolah-olah kau pahlawan, mendingan diam! Saya mengutuk korupsi tersebut. Kewenanganmu malah melebihi diri kau yang berhak mendiskors, memecat sementara direksi,” pungkasnya. (Riris*)
