
Sleman, kabarterdepan.com – Memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia 2025, sektor perhotelan di Sleman memperkenalkan program penukaran sampah dengan pangan sehat, Jumat (28/11/2025).
Program ini sebagai upaya mengurangi sampah rumahan. Kegiatan yang digelar drngan tagline “Merawat Alam, Menjaga Kehidupan” di Loman Park Hotel, Gejayan, Depok, Sleman tersebut merupakan kolaborasi antara hotel dan bank sampah. Warga datang membawa berbagai jenis sampah seperti plastik (botol, galon, pecahan barang), kertas (kardus, duplex, HVS), serta logam (aluminium, besi, kaleng) untuk ditukar dengan pangan sehat.
Plt Kepala DLH Sleman, Sugeng Riyanta, menilai program tersebut sebagai terobosan di tengah persoalan sampah di DIY. Menurutnya, konsep itu berpotensi direplikasi ke lebih banyak hotel.
“Saya kira memungkinkan (dikembangkan), dan hotel yang lain bisa mengadopsi,” ujarnya.
300 Bank Sampah
Sugeng menambahkan bahwa program seperti ini perlu dikomunikasikan di forum-forum pengusaha agar pendekatan lingkungan tidak hanya menyentuh sektor tertentu. Saat ini, terdapat sekitar 300 bank sampah di Sleman yang dapat digerakkan untuk program serupa.
Founder dan Managing Director Loman Park Hotel, Handono S. Putro, menjelaskan bahwa pihaknya menggandeng Bank Sampah Bumi Lestari. Ia menyebut telur dipilih sebagai komoditas penukaran karena nilai gizinya tinggi.
“Telur disebutnya menjadi alat untuk pertukaran karena memiliki banyak sekali manfaat baik. Telur sementara ini menjadi makanan diasramakan karena memiliki protein tinggi,” katanya.
Tak hanya itu, ia menambahkan bahwa telur yang digunakan memiliki kualitas khusus.
“Terlebih ayam yang dipasok untuk ditukar tersebut memiliki omeganya 6 kali lipat dibandingkan telur biasa,” jelasnya.
Handono berharap program ini dapat ditiru oleh lebih banyak hotel di Yogyakarta.
“Saya mendorong seluruh pelaku perhotelan di Yogyakarta bisa memulai program tersebut sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan sekitar,” ujarnya.
Dispar Sleman
Kepala Bidang Pemasaran Dispar Sleman, Kus Endarto, menilai program ini juga relevan bagi sektor pariwisata karena menawarkan pengalaman baru bagi wisatawan sekaligus manfaat ekonomi.
“Kalau digabungkan dengan baik, insyaallah akan menjadi cuan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pengelola destinasi, melainkan juga memerlukan kesadaran wisatawan.
“Kalau edukasinya hanya dari owner sementara wisatawannya tidak, kan tidak adil. Harus seimbang, dan acara ini salah satunya,” katanya. (Hadid Husaini)
