Menjelang Ramadan Harga Sapi Hidup di Cianjur Meroket, Pedagang Daging Sapi Pilih Mogok Jualan

Avatar of Jurnalis: Ririn
Lonjakan Harga Sapi Hidup Jelang Ramadan Picu Mogok Pedagang Daging di Cianjur
Lonjakan Harga Sapi Hidup Jelang Ramadan Picu Mogok Pedagang Daging di Cianjur. (Sumber: Hasan)

Cianjur, Kabar Terdepan.com – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 2026 harga sapi hidup di Kabupaten Cianjur mengalami lonjakan signifikan. Kenaikan harga yang cukup tajam ini berdampak langsung pada aktivitas perdagangan daging sapi di pasar tradisional, bahkan memicu aksi mogok jualan yang dilakukan para pedagang.

4 Warga Cianjur Dilarikan ke RSUD Sayang Akibat Keracunan Jamur Liar

Fenomena kenaikan harga sapi hidup menjelang Ramadan dan Idulfitri sejatinya bukan hal baru. Hampir setiap tahun, permintaan sapi potong meningkat seiring naiknya konsumsi daging sapi oleh masyarakat. Namun, lonjakan harga sapi hidup di Cianjur kali ini dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sehingga memberatkan pedagang dan menurunkan daya beli konsumen.

https://cirebonkota.go.id/index.php/berita/gotong-royong-berikan-bantuan-untuk-korban-gempa-bumi-di-kabupaten-cianjur

Seorang peternak sapi asal Kabupaten Cianjur, Abew (31), mengungkapkan bahwa kenaikan harga sapi hidup menjelang Ramadan sudah menjadi pola rutin. Menurutnya, meningkatnya permintaan dari pedagang dan rumah potong hewan menjadi faktor utama naiknya harga.

“Kalau mau masuk Ramadan atau Lebaran, harga sapi hidup memang biasanya naik. Tapi sekarang kenaikannya cukup tinggi. Sapi ditimbang hidup bisa tembus Rp60 ribu per kilogram, bahkan tergantung kualitas dan bobot sapinya,” ujar Abew saat ditemui, Senin (26/01/2026).

Abew menjelaskan, harga sapi hidup yang tinggi juga dipengaruhi oleh biaya perawatan ternak yang terus meningkat, mulai dari pakan, obat-obatan, hingga biaya transportasi. Kondisi tersebut membuat peternak tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan harga jual.

Menjelang Ramadan, Pedagang Daging Sapi di Cianjur Protes Harga Sapi Hidup yang Meroket

Lonjakan harga sapi hidup ini berdampak langsung pada pedagang daging sapi di pasar tradisional. Sejumlah pedagang mengaku kesulitan menyesuaikan harga jual daging sapi kepada konsumen, karena khawatir pembeli semakin berkurang.

Iep (43), salah satu pedagang daging sapi di pasar tradisional Cianjur, mengatakan seluruh pedagang sepakat melakukan aksi mogok jualan sebagai bentuk protes terhadap mahalnya harga sapi hidup.

“Kami kompak mogok jualan karena harga sapi hidup melonjak terlalu tinggi. Biasanya harga di kisaran Rp45 ribu sampai Rp50 ribu per kilogram, sekarang bisa mencapai Rp61 ribu. Dengan harga seperti ini, pembeli jadi sepi dan kami juga sulit ambil untung,” ungkap Iep.

Menurut Iep, kenaikan harga sapi hidup membuat harga daging sapi di tingkat konsumen berpotensi melonjak. Namun, pedagang berada dalam posisi sulit karena jika harga daging dinaikkan, konsumen enggan membeli, sementara jika harga tetap, pedagang merugi.

Aksi mogok jualan pedagang daging sapi ini telah berlangsung sejak Minggu (25/01/2026). Aksi tersebut dilakukan secara serentak di tiga pasar tradisional utama di Kabupaten Cianjur, yakni Pasar Cipanas, Pasar Muka, dan Pasar Jebrod.

“Kami sudah mogok sejak Minggu kemarin. Tiga pasar di Cianjur kompak. Ini bentuk aspirasi kami agar pemerintah turun tangan. Harapan kami ada penetapan batas harga tertinggi sapi hidup supaya perdagangan bisa berjalan normal,” tegas Iep.

Mogoknya pedagang daging sapi ini turut berdampak pada masyarakat. Sejumlah warga mengaku kesulitan mendapatkan daging sapi di pasar tradisional, terutama menjelang Ramadan yang biasanya menjadi momentum meningkatnya kebutuhan bahan pangan.

Menanggapi situasi tersebut, Sekretaris Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah, Perdagangan, dan Perindustrian (Diskuperdagin) Kabupaten Cianjur, Wahyu Ginanjar, mengatakan pihaknya telah melakukan komunikasi dan pendekatan persuasif kepada para pedagang.

“Kami sudah berupaya melakukan dialog dan membujuk para pedagang agar tetap berjualan, demi menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di masyarakat,” kata Wahyu.

Namun demikian, upaya tersebut belum membuahkan hasil. Menurut Wahyu, pedagang menilai kenaikan harga sapi hidup saat ini terlalu tinggi dan sangat memberatkan, sehingga mereka memilih tetap melakukan aksi mogok.

“Karena harga sapi hidup naik cukup signifikan dan dirasa merugikan pedagang, mereka memilih mogok berjualan hingga Senin besok. Kami terus memantau dan berkoordinasi untuk mencari solusi terbaik,” pungkasnya.

Pemerintah daerah diharapkan dapat segera mengambil langkah konkret untuk mengendalikan harga sapi hidup di Cianjur. Intervensi pasar, penguatan distribusi, serta koordinasi dengan peternak dan pedagang dinilai penting guna menjaga stabilitas harga daging sapi menjelang Ramadan.

Jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan lonjakan harga daging sapi akan semakin membebani masyarakat, terutama menjelang bulan puasa yang identik dengan meningkatnya kebutuhan konsumsi pangan. Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat segera menemukan solusi agar roda perekonomian dan kebutuhan pangan masyarakat Cianjur tetap terjaga. (Hasan)

Responsive Images

You cannot copy content of this page