Harga Cabai Melonjak, Petani di Pacet Tetap Tak Terpengaruh

Avatar of Redaksi
20250109 101803 11zon scaled
Foto ladang cabai milik salah satu petani di Pacet, Mariyadi. (Riris)

Mojokerto, Kabarterdepan.com – Lagi-lagi kenaikan harga cabai di pasaran menjadi sorotan banyak pihak. Namun, kenyataannya hal ini tidak memberikan pengaruh signifikan bagi petani cabai di Kecamatan Pacet, Mojokerto. Harga cabai di Pasar Pacet kini mencapai Rp 100.000 per kilogram sementara di tengkulak berada di harga Rp 60.000 per kilogram dan Rp 80.000 kilogram saat tahun baru.

Para petani di daerah tersebut mengaku, keuntungan atau kerugian mereka yang utama tidak bergantung pada harga cabai yang naik, melainkan pada faktor-faktor lain seperti cuaca, kualitas lahan, dan serangan hama.

Salah satu petani cabai di Dusun Sukorejo, Desa Kemiri, Kecamatan Pacet, Mariyadi, menceritakan pengalamannya dalam menghadapi fluktuasi harga cabai. Ia mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah tergiur untuk memanen cabai secara dini meskipun harga di pasaran sedang tinggi.

“Panennya itu setiap 8 harian, seminggu sekali, enggak pernah petik hijau meskipun mahal,” ujar Mariyadi saat ditemui, Kamis (9/1/2025).

Namun, ia mengaku pernah terpaksa memanen cabai lebih awal karena kondisi tanaman yang tidak memungkinkan untuk dibiarkan lebih lama.

“Tidak tergiur, istilahnya kalau demi keluarga harus betah lapar. Kemarin itu saya petik hijau karena rusak,” tambahnya.

Menurut Mariyadi, kenaikan harga cabai di pasaran saat ini sebenarnya masih tergolong stabil dan tidak memberikan dampak signifikan terhadap keuntungan yang ia peroleh. Ia menjelaskan bahwa meskipun harga cabai tinggi, hasil panen yang diperoleh tidak banyak, sehingga secara keseluruhan keuntungan yang didapatkan tidak jauh berbeda dengan saat harga cabai lebih rendah.

“Jadi meskipun mahal ya dapatnya sedikit, hanya dapat setengah kuintal, hanya 15 kg. Pas dulu masih harga Rp 13.000 dapat lebih banyak. Sebenarnya sama saja. Kemarin malah hanya dapat 2 kg,” paparnya.

Mariyadi menekankan bahwa keuntungan yang ia peroleh lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi ladang cabai miliknya. Salah satu faktor yang menurutnya cukup menghambat produktivitas tanaman cabai adalah lokasi ladang yang berada di dekat lampu jalan. Cahaya dari lampu tersebut membuat tanaman cabai sulit tumbuh dan memerah.

“Seperti (ladang) yang di makam, yang utara itu kan kena lampu kan gak bisa berbuah,” katanya.

Selain itu, curah hujan yang tinggi di akhir tahun dan awal tahun juga menjadi tantangan tersendiri bagi petani cabai di wilayah Pacet.

“Gak normal, kadang bagus, kadang gak. Benar harga mahal, tapi kalau hasilnya sedikit ya sama saja. Hujan juga terus menerus kan, kalau panas cabai cepet merah,” ungkapnya.

Untuk mendukung keberlangsungan usahanya, Mariyadi memilih untuk memproduksi bibit cabai sendiri. Hal ini dilakukan karena pengalaman buruk yang ia alami saat menggunakan bibit cabai dari daerah lain.

“Saya kan pembibitan sendiri. Pernah beli bibit dari Batu itu banyak yang rusak, jadi terpaksa dipetik hijau,” jelasnya.

IMG 20250109 WA0001
Foto salah satu petani cabai di Pacet, Mariyadi.

Meski demikian, Mariyadi masih merasa bersyukur karena memiliki ladang cabai di lokasi lain yang produktivitasnya cukup baik. Ladang tersebut bahkan memungkinkan ia melakukan panen hingga dua kali dalam satu musim.

Tidak hanya menanam cabai, Mariyadi juga membudidayakan tanaman lain seperti bawang merah, tomat, dan seledri. Hal ini dilakukan untuk menambah penghasilan dan mengantisipasi kemungkinan kerugian dari satu jenis tanaman.

Hasil panen cabainya biasanya langsung dijual di pasar atau kepada tengkulak dan bakul sayur yang banyak terdapat di desanya seperti di Dusun Mrasih memang dikenal sebagai daerah pertanian sayur, sehingga keberadaan tengkulak sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga.

“Langsung dijual di pasar. Kalau dulu didatangi bakul sayur dari Mojosari, cuma sekarang orangnya sudah sepuh (tua). Jadi sekarang dijual di pasar kalau siang. Sebenernya bakul-bakul itu banyak, tengkulak-tengkulak dari Mrasih itu juga banyak,” tutupnya.

Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, petani cabai di Pacet seperti Mariyadi menunjukkan bahwa ketahanan dan adaptasi terhadap kondisi lapangan menjadi kunci utama untuk bertahan dalam dunia pertanian. Fluktuasi harga di pasaran hanyalah satu bagian kecil dari dinamika yang lebih kompleks di sektor ini. (Riris*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page