Harga Cabai Melonjak hingga Rp 100.000 per Kilogram, Petani di Jombang Resah Akibat Penurunan Produksi

Avatar of Redaksi
cabai
Potret cabai milik Ahmad, petani cabai di Kabupaten Jombang, (Inggrid/Kabarterdepan.com)

Jombang, Kabarterdepan.com – Kenaikan harga cabai yang mencapai Rp 100.000 per kilogram di pasar tradisional seolah menjadi kabar baik bagi sebagian besar masyarakat. Namun, bagi petani cabai di Jombang, khususnya di Desa Katemas, Kecamatan Kudu, situasi ini justru membawa keresahan.

Alih-alih meraih keuntungan besar, petani harus berhadapan dengan tantangan berat berupa penurunan produksi akibat berbagai kendala, mulai dari cuaca ekstrem hingga mahalnya biaya produksi.

Ahmad (56), seorang petani cabai di Desa Katemas, mengungkapkan bahwa meskipun harga cabai saat ini tinggi, keuntungan yang didapat justru tidak sesuai harapan. Pasalnya, hasil panen yang ia peroleh sangat menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

“Memang harga cabai naik, tapi produksi kami menurun. Jadi keuntungan yang didapat tidak sebesar yang diperkirakan,” ujar Ahmad, Kamis (9/1/2025).

Menurut Ahmad, salah satu penyebab utama penurunan produksi cabai adalah cuaca ekstrem yang melanda kawasan tersebut. Curah hujan yang tinggi membuat tanaman cabai menjadi rentan rontok, mudah busuk, dan sulit bertahan di kondisi lahan yang lembab. Kondisi ini diperparah dengan serangan hama yang sulit dikendalikan, sehingga menambah kerugian bagi petani.

“Produksi cabai saya tahun ini sangat rendah. Hujan terus-menerus menyebabkan tanaman rontok dan mudah busuk, sementara serangan hama semakin sulit dikendalikan,” tambahnya.

Ahmad juga menyoroti kendala lain yang turut mempersulit para petani, yaitu keterbatasan pasokan pupuk bersubsidi dan tingginya biaya produksi. Harga pupuk yang terus naik membuat para petani tidak mampu memenuhi kebutuhan lahan mereka, sehingga produktivitas tanaman semakin menurun.

Meskipun harga cabai yang tinggi sering dianggap membawa keuntungan besar bagi petani, kenyataannya tidak selalu demikian. Kenaikan harga yang terlalu signifikan justru memunculkan kekhawatiran baru. Para petani khawatir lonjakan harga cabai akan membuat permintaan pasar menurun drastis, sehingga stok cabai tidak terserap dengan optimal.

“Kalau harga terus naik, dampaknya permintaan akan menurun, dan ini akan jadi masalah besar buat kami. Yang biasanya pembeli ambil 5 kilogram, sekarang mereka hanya beli 2 kilogram aja,” keluh Ahmad.

Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun harga cabai tinggi, petani tidak selalu berada dalam posisi menguntungkan. Penurunan produksi akibat cuaca buruk, serangan hama, dan tingginya biaya produksi menjadi faktor utama yang mengurangi margin keuntungan mereka.

Masalah yang dihadapi petani cabai di Jombang mencerminkan tantangan yang lebih besar dalam sektor pertanian Indonesia, terutama bagi komoditas strategis seperti cabai. Cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim, ditambah dengan ketergantungan pada pupuk kimia, menjadi isu yang harus segera diatasi. (Inggrid*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page