
Kabupaten Mojokerto, Kabarterdepan.com – Menjelang hari raya, pasar-pasar tradisional di Kabupaten Mojokerto mulai merasakan dampak gelombang kenaikan biaya kebutuhan pokok.
Kenaikan harga kebutuhan pokok yang terjadi secara beruntun dalam beberapa pekan terakhir telah menciptakan efek domino yang berdampak negatif pada daya beli masyarakat setempat.
Di pasar Kedungmaling, sejumlah komoditas bumbu dapur dan sembilan bahan pokok (sembako) terlihat mengalami lonjakan harga yang cukup signifikan.
Fenomena ini menjadi beban ganda, para pedagang mengeluhkan sepinya transaksi, sementara konsumen harus memutar otak untuk mencukupkan anggaran dapur yang semakin menipis.
Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, kenaikan yang paling mencolok terjadi pada komoditas cabai rawit dan bawang putih.
Selain bumbu dapur, harga telur ayam dan gula pasir juga mulai meningkat, meninggalkan tarif standar pasar dalam beberapa pekan terakhir.
Sunoto, seorang pedagang yang telah berjualan selama 28 tahun di pasar Kedungmaling, menyatakan bahwa kenaikan terjadi hampir setiap hari menjelang hari raya idulfitri.
Ia menjelaskan bahwa harga cabai rawit saat ini telah mencapai Rp85.000 per kilogram, meningkat dari sebelumnya yang berada di kisaran Rp80.000.
“Yang naik itu cabai kecil kemarin 80.000 sekarang 85.000. Karena mau hari raya cabai naik terus sampai hari raya ketupat,” ujar Sunoto Jumat (27/02/2026).
Tidak hanya cabai, komoditas bawang putih juga mengalami kenaikan yang signifikan.
Bawang putih yang sebelumnya dijual seharga Rp30.000 per kilogram, kini telah ditetapkan pada harga Rp35.000 per kilogram.
Efek Guncangan Harga Kebutuhan Pokok Paksa Konsumen Putar Otak Jelang Hari Raya
Meskipun demikian, terdapat sedikit kabar baik mengenai komoditas bawang merah yang masih menunjukkan stabilitas, serta tomat yang tetap berada di harga Rp10.000 per kilogram.
Sunoto menjelaskan bahwa kenaikan ini tidak hanya disebabkan oleh keinginan pedagang untuk meraih keuntungan besar, tetapi juga merupakan akibat dari hukum pasar yang tidak dapat dihindari.
Faktor utama yang berkontribusi yakni terbatasnya pasokan dari tingkat distributor atau tengkulak.
Di sisi lain, minat masyarakat untuk menyimpan bahan masakan menjelang lebaran biasanya mengalami peningkatan yang signifikan.
“Barang dari tengkulak cuma ada sedikit sedangkan dari pembeli banyak yang cari. Pasarnya begitu, kalau barang langka tapi peminat banyak pasti melambung,” tambahnya.
Kondisi yang tidak kalah rumit terlihat di blok sembako, Iba, seorang pedagang sembako di pasar tersebut, mengonfirmasi bahwa kenaikan ini tidak hanya mempengaruhi bumbu dapur, tetapi juga menyasar komoditas utama lainnya.
Telur ayam menjadi salah satu penyumbang inflasi pasar yang paling signifikan, dari harga standar Rp26.000 per kilogram, kini harganya telah melambung mencapai Rp30.000 per kilogram.
“Bukan cuma telur, gula pasir dan minyak goreng juga ikut naik. Gula yang tadinya Rp16.000 sekarang jadi Rp16.500 per kilogram. Memang kalau dilihat secara nominal kecil, hanya lima ratus perak, tapi bagi pembeli yang beli banyak, itu sangat terasa,” kata Iba.
Kenaikan harga pangan ini secara langsung mempengaruhi daya beli masyarakat di Pasar Kedungmaling.
Para pedagang mengeluhkan adanya penurunan omzet atau “kemerosotan” dalam jumlah pembelian.
Iba menjelaskan bahwa banyak pelanggannya yang mulai mengubah pola belanja mereka untuk mengatasi tingginya harga telur dan bumbu dapur.
“Dari pembelinya juga ada pengurangan pembelian itu ada mrosotnya turun ini, biasanya beli 1kg sekarang separohnya setengah kg, terkadang di ganti dengan ikan tempe,” tegas Ida.
Fenomena ini menciptakan ironi yang menyakitkan dalam dunia perdagangan.
Secara historis, periode menjelang Idulfitri seharusnya dianggap sebagai “masa panen” atau waktu puncak keuntungan bagi para pedagang pasar.
Namun, tahun ini, lonjakan harga yang sangat tinggi justru berbalik menjadi bumerang, pasar menjadi sepi akibat daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Di tengah ketidakpastian harga, para pedagang di pasar Kedungmaling hanya dapat berharap pada intervensi pemerintah atau kestabilan pasokan dalam waktu dekat.
Bagi pedagang seperti Sunoto dan Iba, mereka tidak mengharapkan margin keuntungan yang sangat tinggi, melainkan kembalinya keramaian pasar.
“Harapannya sih murah pastinya, pembelinya bertambah, pelanggannya bertambah, biar perputaran uangnya bisa muter,” jelasnya.
Kondisi pasar Kedungmaling ini mencerminkan tantangan ekonomi makro yang dihadapi masyarakat menjelang hari raya.
Diperlukan perhatian yang serius dari pihak-pihak terkait untuk menjaga rantai distribusi pangan agar “pedasnya” harga cabai dan sembako tidak semakin menyulitkan kehidupan masyarakat kecil.
