IMM Toyota - Mojokerto
Kitoshindo
Birth Beyond

Hadiri Rakernas Alumni Pesantren Tebuireng, KSP Moeldoko Kagumi Sosok KH Hasyim Asy’ari

Avatar of Jurnalis : Muzakki - Editor : Ano
Kepala Staf Presiden jenderal (purn) Moeldoko saat menghadiri rakernas dan halaqoh kebangsaan Ikapete, Sabtu (27/1/2024). (Redaksi kabarterdepan.com)
Kepala Staf Presiden jenderal (purn) Moeldoko saat menghadiri rakernas dan halaqoh kebangsaan Ikapete, Sabtu (27/1/2024). (Redaksi kabarterdepan.com)

Kabupaten Mojokerto, kabarterdepan.com – Kepala Staf Kepresidenan Dr. Moeldoko turut menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Halaqah Kebangsaan Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (Ikapete) Jombang.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Hotel Arayana Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto, Sabtu (27/1/2024). Ada ratusan alumni dari berbagai wilayah di Indonesia yang hadir dengan tema ‘Merajut Kebersamaan, Membangun Budaya dan Peradaban.

Responsive Images

Pada kesempatan itu, mantan Panglima TNI 2013-2015 ini berpesan agar semua pihak menjaga situasi politik di tanah air tetap kondusif. Apalagi saat ini sudah memasuki tahun politik.

Ia juga mewanti-wanti masyarakat untuk tidak terjebak dan larut oleh upaya kelompok-kelompok tertentu yang ingin melakukan politik adu domba atau pecah belah. Di kesempatan tersebut Moeldoko menyumbang pembangunan Gedung Ikapete sebesar Rp 500 juta.

Dalam kegiatan itu juga digelar bedah pemikiran dari KH Hasyim Asy’ari, pendiri pesantren Tebuireng yang sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Moeldoko menyebut pemikiran Kiai Hasyim Asy’ari tentang perpaudan agamis dan nasionalisme cocok diterapkan dalam berbangsa dan negara.

“Sebenarnya saya banyak belajar, antara agamis dan nasionalisme itu menjadi sebuah paduan dalam memperkuat perjalanan bangsa Indonesia,” ucap Jenderal (Purn) Dr .Moeldoko.

“Ini sebuah pelajaran bagi saya, Saya mantan panglima TNI bicara naturalisme, sementara teman saya agamis yang sangat kuat merupakan perpaduan yang kuat antara Civil society bekerjasama itu birokrasi dengan TNI/Polri itu menyatu antara ulama dan umara,” imbuh Moeldoko.

“Perpaduan antara nation dan civil society bekerja sama dengan birokrasi, TNI/Polri, kalau itu menyatu antara ulama dan umara’ itu luar biasa. Itu bukan sebuah jargon bagi bapak Kiai Hasyim Asya’ari, itu pelajaran yang perlu menjadi panduan dalam berbangsa dan bernegara,” tegasnya. (*)

Tinggalkan komentar