Hadapi Era Kecerdasan Buatan, CSIS Yakin Jurnalisme Tak Tergantikan: Perkuat Verifikasi, Validasi dan Cover Both Side

Avatar of Redaksi
IMG 20250821 WA0129
Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS Arya Fernandes. (Hadid Husaini/kabarterdepan.com)

Sleman, kabarterdepan.com – Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menilai Artificial Intelligence (AI) tak akan membuat media tradisional mati.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS Arya Fernandes saat ditemui di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Arya menyampaikan bahwa pengaruh AI pada jurnalisme berkembang cukup pesat.

“Perkembangan AI dalam memberi dampak bagaimana jurnalisme bekerja kalau kita lihat beberapa media besar sudah mulai beradaptasi dengan memanfaatkan AI,” katanya, Kamis (21/8/2025).

Ia menyampaikan saat ini media-media besar banyak yang telah mengadopsi AI. Bukan hanya dalam hal kecepatan, namun AI disebutnya mampu membantu media dalam menghasilkan berita-berita yang banyak disukai oleh masyarakat.

“Media besar di luar negeri mencari model pemberitaan yang diminati orang, memahami bagaimana informasi bisa bekerja,” ujarnya.

“Media besar menyadari bagaimana membuat berita yang disukai oleh orang,” imbuhya.

Dalam jangka 10 tahun ke depan, Arya meyakini akan tetap bisa bertahan di tengah tantangan zaman.

Kuncinya, para jurnalis harus serius menerapkan prinsip yang benar dalam proses pencarian berita seperti verifikasi, validasi, dan cover both side.

“Selama itu masih dipegang, saya kira media masih akan jadi rujukan. Ada kecenderungan media tetap masih bisa beradaptasi,” katanya.

“Saya percaya jurnalisme tidak akan digantikan. Karena bertumpu pada standar verifikasi yang kuat,  standar validasi yang kuat dan yang berbasis fakta” ujarnya. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page