Di Balik Gunung Sampah Randegan Kota Mojokerto: Ada Harapan di Antara Gas Metana

Dibalik Gunung Sampah Randegan Kota Mojokerto Ada Harapan
Dibalik Gunung Sampah Randegan Ada Harapan – (Septi/Kabarterdepan.com)

Mojokerto, Kabarterdepan.com – Bau menyengat gas metana menyeruak hebat saat matahari mulai bersembunyi di balik awan mendung yang menggantung rendah. Di atas gundukan limbah yang menggunung, seorang pria tua tampak asyik memilah tumpukan plastik dengan tangan yang dibalut sarung tangan kusam.

Pujiono tampak lincah memeriksa setiap tumpukan sampah di TPA Randegan, Kota Mojokerto, pada Rabu siang (11/2/2026).

Mengenakan topi yang sudah pudar warnanya, warga Pasinan, Kepuh Anyar ini tidak tampak terganggu dengan aroma busuk yang menusuk hidung. Baginya, aroma ini adalah aroma kehidupan yang telah ia hirup selama hampir dua dekade terakhir.

Pujiono adalah salah satu dari banyak “pahlawan tak terlihat” yang bergantung pada sisa konsumsi masyarakat kota. Sejak 2007, ia menjadikan TPA Randegan sebagai tempat kerjanya, memilah sampah untuk menghidupi keluarga.

“Saya berangkat setengah tujuh pagi dari rumah,” ujar Pujiono sambil menyeka keringat di dahinya.

Baginya, kedisiplinan adalah kunci, meski pekerjaan yang ia geluti sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat luas.

Rutinitasnya tidaklah sederhana. Ia tidak sekadar memungut, namun harus memiliki ketelitian. Sampah yang diturunkan dari truk tidak bisa langsung dijual begitu saja kepada pengepul jika ingin mendapatkan harga layak.

Ia membawa hasil kerjanya ke gubuk kecil untuk dipilah manual. Proses ini bisa memakan waktu hingga dua hari, memisahkan plastik, kertas, dan logam agar nilai jualnya naik.

Dalam dunia Pujiono, sampah memiliki kasta ekonomi yang sangat jelas. Gelas mineral kotor, hanya dihargai Rp3.300 per kilogram. Namun, jika ia telaten membersihkannya dari label dan tanah, harganya bisa naik menjadi Rp3.700.

“Paling dicari itu plastik inject atau plastik keras, itu harganya bisa sampai Rp5.000 per kilo. Sebaliknya, kertas dan kaleng berada di kasta bawah dengan harga kisaran Rp1.600 hingga Rp1.700 saja”. katanya dengan mata berbinar.

Rata-rata, dalam sehari Pujiono mampu mengumpulkan tiga hingga empat karung. Dengan berat per karung sekitar 7 kilogram, pendapatan yang ia bawa pulang memang tidak seberapa jika dibandingkan dengan risiko kesehatan yang ia pertaruhkan.

Bahaya di TPA Randegan bukan hanya soal bakteri atau virus. Gas metana yang dihasilkan dari pembusukan sampah organik adalah ancaman nyata yang bisa memicu ledakan atau keracunan jika konsentrasinya terlalu pekat di bawah terik matahari.

Belum lagi ancaman dari langit. Lokasi TPA yang terbuka dan berdekatan dengan menara transmisi listrik (tower) membuat para pemulung sangat rentan tersambar petir saat cuaca buruk melanda Mojokerto.

“Kalau hujan deras dan petir, kami sangat takut. Lokasi ini dekat tower, rawan sekali,” keluh Pujiono.

Namun, rasa takut itu selalu ia kalahkan demi kebutuhan dapur yang harus tetap mengepul setiap harinya.

Di sisi lain operasional TPA, muncul sosok Pak Edo, pria yang sudah 13 tahun menjadi pengemudi truk sampah. Jika Pujiono adalah penyaring di hilir, maka Edo adalah pengalir di hulu yang memastikan sampah kota tidak menumpuk di pemukiman.

Edo bertugas menjemput limbah, baginya rute harian menuju Randegan sudah seperti makanan sehari-hari yang tak lagi membuatnya merasa mual.

“Sudah mati rasa dengan baunya,” ujar Edo sambil memarkir truknya.

Ia mengaku sangat menghargai keberadaan para pemulung seperti Pujiono, karena tanpa mereka, kapasitas TPA akan cepat penuh.

Randegan: Titik Akhir dan Awal Perputaran Sampah Kota Mojokerto

Simbiosis antara sopir truk dan pemulung ini menciptakan harmoni yang unik di tengah tumpukan barang buangan. Saat truk Edo menumpahkan muatan, itulah saat “pesta” bagi para pemulung dimulai untuk mencari butiran rupiah di balik kotoran.

Masyarakat kota mungkin hanya tahu bahwa sampah yang mereka taruh di depan pagar akan hilang keesokan harinya. Namun, di Randegan, sampah tersebut menjadi saksi perjuangan manusia-manusia tangguh yang pantang menyerah pada keadaan.

Sore itu, sekitar pukul 15.30 WIB, Pujiono mulai mengikat karung-karungnya. Meski punggungnya mulai terasa kaku, senyum tipis tetap mengembang di wajahnya yang keriput karena terpapar matahari selama bertahun-tahun.

Baginya, Randegan bukanlah tempat pembuangan akhir, melainkan tempat dimulainya harapan baru. Di antara tumpukan barang yang dianggap tak berguna, ia menemukan cara untuk tetap tegak berdiri sebagai kepala keluarga.

Perjuangan Pak Pujiono dan Pak Edo memberikan pelajaran berharga tentang kerja keras dan ketulusan. Bahwa di balik kemajuan sebuah kota, ada tangan-tangan yang kotor demi menjaga wajah kota tetap bersih dan bercahaya.

Langkah kaki Pujiono perlahan meninggalkan area TPA Randegan seiring dengan memudarnya cahaya senja di cakrawala Mojokerto. Besok pagi, ia akan kembali lagi, beradu nasib dengan aroma gas metana dan tumpukan plastik demi segenggam asa yang tak pernah padam.

Responsive Images

You cannot copy content of this page