Nekat Merantau ke Mojokerto Gorengan Mamake Bertahan 16 Tahun

Avatar of Redaksi
Nekat Merantau ke Mojokerto Gorengan Mamake Bertahan 16 Tahun
Nekat Merantau ke Mojokerto Gorengan Mamake Bertahan 16 Tahun

KotaMojokerto, KabarTerdepan.com– Siapa yang tak kenal gorengan “Mamake”? Jajanan sederhana yang sudah menemani warga sejak awal tahun 2010-an ini menyimpan kisah perjuangan panjang sepasang suami istri perantau asal Bumiayu, Jawa Tengah.

Pasangan ini memulai usaha gorengan mereka di kawasan Pangreman sekitar tahun 2010. Saat itu, harga gorengan masih Rp500 per buah. Dengan rasa yang khas dan harga terjangkau, dagangan “Mamake” cepat dikenal warga sekitar. Kini, seiring kenaikan harga bahan pokok seperti minyak dan tepung, gorengan tersebut dijual Rp2.000 untuk tiga buah. Meski harga berubah, cita rasa dan ukuran tetap dipertahankan agar pelanggan tidak kecewa.

Merantau ke Mojokerto demi memperbaiki ekonomi keluarga, pasutri ini memulai segalanya dari nol. Berbekal tekad dan resep sederhana, mereka berjualan dari pagi hingga sore hari. Setelah cukup lama berjualan di Pangreman, usaha mereka kemudian berpindah ke kawasan Suratan, tepatnya di Gang Dipo, yang hingga kini menjadi lokasi berjualan tetap.

Baca juga: Senja Berbuka di Kotabaru: Solusi Bukber Hits, Hemat, dan Strategis

“Mamake” bukan sekadar penjual gorengan. Bagi pelanggan setianya, ia dikenal ramah dan murah senyum. Konsistensi rasa seperti bakwan, tahu isi, tempe goreng, dan pisang goreng membuat pembeli terus berdatangan dari berbagai kalangan, mulai anak sekolah hingga pekerja.

Dari hasil berjualan gorengan inilah mereka membesarkan empat orang anak. Dua anak kini telah bekerja dan membantu meringankan beban keluarga, sementara dua lainnya masih bersekolah dan menjadi motivasi utama kedua orang tua tersebut untuk terus berjualan setiap hari.

Bersyukur Merantau ke Mojokerto

Dalam keterangannya, Mamake mengungkapkan rasa syukurnya atas perjalanan usaha yang telah dijalani.

“Alhamdulillah, sejak awal jualan tahun 2010 sampai sekarang masih diberi rezeki dan pelanggan yang setia. Dulu gorengan saya Rp500 per biji, sekarang Rp2.000 dapat tiga, tapi saya tetap berusaha jaga rasa dan kualitasnya. Saya dan suami merantau dari Bumiayu ke Mojokerto demi anak-anak. Alhamdulillah, dua anak sudah bekerja dan dua masih sekolah. Semoga usaha kecil ini terus berjalan dan bisa menyekolahkan anak-anak sampai sukses,” ujarnya.

Di tengah persaingan usaha dan naik turunnya harga bahan baku, gorengan “Mamake” tetap bertahan. Kisah mereka menjadi bukti bahwa usaha kecil dengan ketekunan dan kejujuran dapat menopang kehidupan keluarga selama bertahun-tahun. (Innka)

Responsive Images

Tinggalkan komentar

You cannot copy content of this page