Golden Time Evakuasi Korban Ponpes Al Khoziny Berakhir, Apa Artinya?

Avatar of Jurnalis: Riris
Masa golden time evakuasi berakhir, Tim SAR lanjutkan proses evakuasi korban dengan menggunakan alat berat. (TikTok)
Masa golden time berakhir, Tim SAR lanjutkan proses evakuasi korban dengan menggunakan alat berat. (TikTok)

Sidoarjo, Kabarterdepan.com – Masa waktu emas atau Golden Time operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap korban runtuhnya gedung musala tiga lantai Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, dinyatakan berakhir sehingga evakuasi dilanjutkan menggunakan alat berat.

Apa itu Masa Golden Time?

Dalam konteks operasi penyelamatan korban bencana atau kecelakaan besar seperti runtuhnya bangunan, masa golden time merujuk periode kritis awal setelah kejadian di mana kemungkinan untuk menemukan korban selamat berada pada titik tertinggi.

Selama waktu ini, tim SAR berusaha mengevakuasi dengan cepat agar korban yang terluka berat masih memiliki peluang untuk diselamatkan.

Pendekatan serupa dikenal dalam dunia medis sebagai golden hour, yakni periode awal setelah trauma ketika intervensi cepat sangat menentukan peluang hidup korban.

Adapun dalam konteks bencana struktural seperti gedung runtuh, beberapa pakar menyebut periode lebih luas, misalnya 72 jam pertama pascakejadian sebagai rentang waktu dimana peluang selamat masih relatif lebih tinggi, sebelum kondisi lingkungan seperti sesaknya udara, kerusakan struktur, atau kerusakan internal tubuh korban makin memburuk.

Dalam kasus evakuasi korban Ponpes Al Khoziny ini, tim SAR gabungan melakukan asesmen mendalam hingga Rabu (1/10/2025) malam dan menyimpulkan bahwa tidak ada lagi tanda kehidupan di bawah reruntuhan.

Keputusan ini menandai bahwa golden time telah usai, sehingga metode evakuasi manual yang memprioritaskan penyelamatan korban selamat sudah tidak efektif lagi dan harus digantikan dengan alat berat.

Evakuasi Korban Meninggal Gunakan Alat Berat

Proses evakuasi korban runtuhan Ponpes Al Khoziny dilakukan dengan alat berat dimulai pada Kamis (2/10/2025) pagi.

Dilansir dari laman resmi BNPB, keputusan ini didasarkan pada hasil asesmen lapangan dan kesepakatan keluarga korban, yang telah menandatangani berita acara sebagai dasar kelanjutan operasi.

“Sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tim SAR gabungan memutuskan untuk masuk ke tahap selanjutnya yaitu mengevakuasi korban yang sudah meninggal menggunakan alat-alat berat,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto.

Data terbaru per Kamis (2/10/25) sore sebanyak 108 orang berhasil dievakuasi, 30 masih dirawat, 73 telah pulang, 5 meninggal dunia, dan 58 korban yang belum ditemukan dinyatakan meninggal dunia.

Evakuasi berikutnya akan lebih masif, mengandalkan alat berat untuk mengangkat material berat dan tubuh korban secara aman bagi petugas. (*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page