Gerakan 1000 Cahaya Pesantren Muhammadiyah Dorong Kemandirian Energi dan Budaya Hemat Listrik

Avatar of Ahmad
Foto bersama setelah pembukaan Lokakarya efisiensi dan transisi energi listrik 1000 cahaya di lingkungan pesanteren, pada 28 Februari 2025 di MBS Zam-zam Cilongokok, Banyumas. (Ahmad/kabarTerdepan.com) 
Foto bersama setelah pembukaan Lokakarya efisiensi dan transisi energi listrik 1000 cahaya di lingkungan pesanteren, pada 28 Februari 2025 di MBS Zam-zam Cilongokok, Banyumas. (Ahmad/kabarTerdepan.com) 

Banyumas, KabarTerdepan.com – Upaya mendorong kemandirian energi dan budaya hemat listrik di lingkungan pesantren memasuki babak baru. Selama tiga hari, 27 Februari–1 Maret 2026, Program 1000 Cahaya bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Pesantren (LPP) PP Muhammadiyah menggelar Lokakarya Efisiensi dan Transisi Energi Listrik di Aula Pondok Pesantren Zam-Zam Cilongok, Banyumas.

Kegiatan ini mempertemukan 40 perwakilan pesantren Muhammadiyah dari berbagai daerah untuk membahas langkah konkret penghematan energi hingga pemanfaatan panel surya.

Lokakarya ini lahir dari kesadaran bahwa bauran energi listrik nasional masih didominasi energi fosil, sementara kontribusi energi terbarukan belum optimal. Di sisi lain, pesantren sebagai institusi pendidikan sekaligus tempat tinggal memiliki konsumsi energi yang signifikan. Di sinilah urgensi perubahan dimulai: dari ruang kelas, asrama, dapur, hingga masjid.

Program 1000 Cahaya

Dalam sesi pengantar, Hening Parlan, Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah sekaligus pengarah Program 1000 Cahaya, menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar proyek teknis pemasangan panel surya. “Ini adalah bagian dari ikhtiar Islam Berkemajuan. Kita ingin membuktikan bahwa nilai amanah sebagai khalifah di bumi diwujudkan dalam aksi nyata, termasuk dalam cara kita mengelola energi,” ujar Hening Parlan dalam rilis, Senin (2/3/2026).

Ia menjelaskan, istilah “Cahaya Muhammadiyah” memiliki akar kolaborasi global lintas agama yang sejak 2020 mendorong transisi energi berkeadilan di lebih dari 70 negara. “Muhammadiyah tidak bergerak untuk kepentingan internal saja. Isu energi adalah isu kemanusiaan. Karena itu, komitmen kita adalah membangun kolaborasi lintas iman untuk transisi energi yang adil dan berkelanjutan,” katanya.

Menurut Hening, pesantren dan masjid dipilih sebagai titik awal karena keduanya merupakan pusat pembentukan nilai. “Kalau budaya hemat energi tumbuh di pesantren, ia tidak berhenti di pagar pondok. Ia dibawa pulang oleh para santri, diajarkan ke keluarga, dan menyebar menjadi gerakan sosial,” ucapnya.

Jaringan Muhammadiyah

Pengarah program lainnya, Ahsan Jamet Hamidi, menyoroti kekuatan jaringan Muhammadiyah yang menjangkau hingga tingkat akar rumput. “Muhammadiyah memiliki masjid, sekolah, pesantren, dan struktur organisasi yang luas. Kalau semua bergerak bersama, hemat energi tidak lagi menjadi wacana, tetapi menjadi budaya,” kata Ahsan Jamet Hamidi.

Ia menambahkan, banyak pengalaman lingkungan hidup yang sebenarnya telah dimiliki Muhammadiyah. “Tantangannya adalah menyusun target yang jelas dan menjadikannya gerakan terstruktur. Energi adalah pintu masuk yang strategis,” ujarnya.

Dalam paparan kebijakan energi nasional, Sudarto M. Abu Kasim, Wakil Direktur 1000Cahaya, mengingatkan bahwa efisiensi energi bermula dari perubahan perilaku. “Bayangkan jika satu rumah menghemat satu kWh listrik. Jika itu dilakukan 20.000 rumah, dampaknya luar biasa. Teknologi penting, tetapi perubahan perilaku jauh lebih menentukan,” tegas Sudarto M. Abu Kasim.

Ia juga menekankan bahwa panel surya bukan sekadar simbol modernisasi. “Instalasi butuh perawatan, manajemen, dan pemahaman administrasi, terutama jika menggunakan sistem on-grid yang terhubung dengan PLN. Jangan sampai semangat besar, tetapi pengelolaan teknisnya lemah,” katanya.

Sejumlah praktik baik dipaparkan dalam lokakarya ini. Beberapa pesantren di Jawa Timur mampu menurunkan konsumsi listrik 15–22 persen. Di Lamongan, efisiensi mencapai sekitar 15 persen, sementara perguruan tinggi Muhammadiyah mencatat penghematan rata-rata 8 persen. Total sekitar 28 instalasi panel surya telah terpasang di lingkungan Muhammadiyah, mulai dari masjid hingga rumah sakit.

Arif Fauzi, Mudir Pesantren Zam-Zam Cilongok, menyambut baik penyelenggaraan lokakarya ini. “Kami merasa terhormat menjadi tuan rumah. Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter peduli lingkungan,” ujarnya.

Langkah Strategis

Sementara itu, Dr. A. Sulaeman, Ketua LPP2M PDM Banyumas, menyebut kegiatan ini sebagai langkah strategis. “Di tengah krisis energi dan perubahan iklim, efisiensi dan transisi energi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Pesantren harus menjadi teladan,” katanya.

Diskusi juga mengemuka soal tantangan di lapangan, mulai dari biaya investasi awal panel surya, perawatan, hingga persoalan administrasi dengan PLN. Beberapa perwakilan pesantren mengusulkan integrasi energi surya dengan program pertanian, peternakan, dan biogas untuk menopang kemandirian ekonomi pesantren.

Menanggapi hal itu, Sudarto menegaskan pentingnya pendekatan bertahap. “Mulailah dari skala kecil, misalnya penerangan masjid atau satu gedung kelas. Identifikasi dulu titik konsumsi terbesar. Jangan langsung semua,” ujarnya.

Di akhir sesi, Hening Parlan kembali mengingatkan bahwa energi matahari adalah anugerah yang melimpah. “Tantangan kita bukan pada ketersediaannya, tetapi pada kesiapan mengelolanya. Jika direncanakan matang dan dirawat dengan baik, energi surya adalah investasi jangka panjang bagi kemandirian pesantren,” katanya.

Lokakarya ini diharapkan melahirkan rencana tindak lanjut konkret di masing-masing pesantren. Dari Banyumas, gerakan kecil ini diharapkan menjalar luas dan menjadi cahaya yang menuntun pesantren menuju masa depan yang lebih hemat, mandiri, dan berkelanjutan.

Tentang 1000 Cahaya Muhammadiyah

Program 1000 Cahaya Muhammadiyah adalah inisiatif Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah untuk membangun Green Movement melalui transisi energi bersih di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), sekolah, pesantren, dan masjid. Diluncurkan pada Mei 2024, program ini bertujuan menciptakan 1000 aksi iklim, termasuk penggunaan panel surya dan efisiensi energi, sebagai komitmen mengurangi dampak krisis iklim. (Ym)

Tinggalkan komentar

You cannot copy content of this page