
Nasional, Kabarterdepan.com – Minat generasi muda untuk menjadi guru kian menurun di Indonesia, sebuah kondisi yang memprihatinkan bagi masa depan pendidikan.
Hasil Survei PGRI Memprihatinkan
Informasi ini muncul setelah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menyampaikan hasil survei terbaru tentang ketertarikan anak muda terhadap profesi guru.
Ketua Umum Pengurus Besar PGRI Unifah Rosyidi menjelaskan bahwa survei tersebut menunjukkan hanya sebelas persen anak yang berminat menjadi guru.
Ia menegaskan bahwa angka tersebut menggambarkan situasi yang serius bagi keberlanjutan dunia pendidikan.
“Jadi berdasarkan survei sederhana yang kita buat hanya sebelas persen anak muda yang tertarik menjadi guru,” ujar Unifah Rosyidi.
Temuan bahwa hanya sebagian kecil generasi muda yang memiliki minat menjadi guru menimbulkan kekhawatiran mendalam.
Kondisi ini dianggap sebagai tanda bahwa profesi guru yang selama ini dikenal sebagai pilar peradaban tengah menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Faktor Penurunan Minat Profesi Guru

Banyak faktor yang melatarbelakangi menurunnya minat tersebut. Salah satunya adalah persepsi bahwa profesi guru tidak menawarkan kesejahteraan maupun jenjang karier yang menarik seperti sektor pekerjaan lainnya. Kondisi ini membuat generasi muda cenderung memilih profesi yang dianggap lebih menjanjikan.
Selain itu, gaji guru honorer yang masih jauh dari kata layak dianggap menjadi persoalan besar. Ketidakpastian masa depan dan minimnya kesempatan pengangkatan membuat profesi ini tidak menjadi pilihan utama bagi anak muda.
TH, seorang guru honorer pengajar Agama Kristen di Kota Mojokerto, membagikan pengalamannya terkait kondisi yang dialami guru honorer saat ini.
“Jadi guru honorer dengan gaji per bulan empat ratus ribu belum cukup untuk kebutuhan di rumah. Saya menjadi guru karena banyak sekolah yang belum memiliki guru Agama Kristen, jadi sekalian mengabdi,” ujar TH.
Ia juga mengungkapkan bahwa tren menurunnya minat menjadi guru bukan tanpa alasan. Banyak guru honorer harus mencari pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Karena upah yang kurang dan tidak ada kepastian pengangkatan. Ini saja saya juga sambil bekerja di tempat lain,” imbuh TH.
Fenomena menurunnya minat menjadi guru menjadi peringatan penting bagi dunia pendidikan. Jika tidak segera ditangani, Indonesia dapat menghadapi krisis tenaga pendidik dalam beberapa tahun mendatang, sebuah situasi yang tentu akan memengaruhi kualitas pendidikan nasional. (Innka)
