
Opini, Kabarterdepan.com – Generasi Z, atau yang disebut Gen Z, kerap disebut sebagai generasi paling adaptif di era digital. Lahir dan tumbuh bersama internet, media sosial, dan teknologi instan, Gen Z terlihat percaya diri, kreatif, dan berani menyuarakan pendapat. Namun di balik citra tersebut, tersimpan kegelisahan yang semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Sebuah survei nasional yang dilakukan terhadap 1.200 responden Generasi Z berusia 17–26 tahun menunjukkan bahwa 68% Generasi Z merasa khawatir terhadap masa depan mereka, terutama terkait pekerjaan, kondisi ekonomi, dan kesehatan mental. Angka ini mencerminkan keresahan yang tidak selalu terlihat di balik unggahan media sosial yang tampak bahagia.
Edi (20) mahasiswa swasta Surabaya, mengaku sering merasa tertekan meski secara akademik tergolong berprestasi.
“Di media sosial semua orang terlihat sukses. Ada yang sudah punya bisnis, ada yang jadi content creator terkenal. Kadang aku merasa tertinggal, padahal aku juga sedang berusaha,” ujarnya.
Hasil survei yang sama menunjukkan bahwa 72% responden sering membandingkan hidup mereka dengan orang lain di media sosial, dan lebih dari separuhnya mengaku hal tersebut berdampak pada rasa percaya diri. Media sosial yang awalnya menjadi ruang ekspresi justru berubah menjadi sumber tekanan sosial.
Di sisi lain, Generasi Z juga dikenal lebih terbuka terhadap isu kesehatan mental. Sekitar 61% responden menyatakan tidak ragu membicarakan stres dan kecemasan, baik kepada teman maupun keluarga. Hal ini menandai perubahan pola pikir dibanding generasi sebelumnya yang cenderung memendam masalah pribadi.
Namun keterbukaan ini belum sepenuhnya diimbangi dengan dukungan yang memadai. Masih banyak Gen Z yang merasa tidak didengar. Survei mencatat 45% responden merasa pendapat mereka sering dianggap “terlalu berlebihan” atau “kurang realistis” oleh generasi yang lebih tua.
Gen Z Pantang Menyerah
Masalah ekonomi juga menjadi sorotan utama. Harga kebutuhan pokok yang meningkat dan persaingan kerja yang ketat membuat Generasi Z harus memikirkan masa depan sejak dini. Tidak sedikit yang memilih bekerja sambil kuliah atau mengambil pekerjaan lepas (freelance) demi menambah penghasilan dan pengalaman.
Meski demikian, Gen Z bukan generasi yang menyerah. Survei menunjukkan 70% responden tetap optimis bahwa mereka bisa menciptakan masa depan yang lebih baik, meskipun jalannya tidak mudah. Mereka percaya pada fleksibilitas, pembelajaran mandiri, dan kekuatan komunitas.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Gen Z hidup di persimpangan zaman: antara peluang besar dan tekanan yang sama besarnya. Mereka bukan generasi yang lemah, melainkan generasi yang jujur terhadap perasaan dan berani menghadapi realita.
Tantangan ke depan bukan hanya milik Gen Z semata, tetapi juga masyarakat dan pemangku kebijakan untuk menciptakan ruang yang lebih aman, adil, dan mendukung. Karena di balik segala kecemasan itu, Gen Z tetap menyimpan satu hal penting: harapan. (Innka)
