
Nasional, KabarTerdepan.com – Gaji guru honorer memprihatinkan kembali menjadi sorotan setelah kisah pilu dari Nusa Tenggara Timur mencuat ke publik. Agustinus dan Wesli, hanya menerima gaji sekitar Rp 223.000 per bulan sebagai guru honorer.
Penghasilan tersebut terdampak efisiensi anggaran dan dinilai jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga sehari-hari. Kondisi ini mencerminkan tantangan nyata yang masih dihadapi para pendidik di daerah.
Di tengah keterbatasan itu, keduanya tetap mengajar dengan penuh tanggung jawab. Setiap hari mereka hadir di kelas, membimbing anak-anak agar tetap memiliki harapan dan masa depan yang lebih baik. Dedikasi itu terus berjalan meski kesejahteraan belum berpihak.
Kisah tersebut diunggah melalui akun Instagram @suliantoindriaputra yang menampilkan kunjungan langsung ke lokasi. Unggahan itu memperlihatkan kondisi sederhana tempat para guru mengabdi serta percakapan yang menggugah hati.
“Baru sampai Nusa Tenggara Timur, kami menempuh penerbangan sekitar 6 sampai 7 jam. Kami ingin bertemu Agus, salah satu guru honorer yang gajinya dipotong karena efisiensi dari 600 ribu menjadi 230 ribu. Kami mau berkunjung, bertanya, dan membantu sebisa kami,” tulis Sulianto dalam unggahan tersebut.
Kisah Guru Honorer
Pertemuan itu membuka cerita panjang tentang perjalanan pengabdian yang tidak mudah. Selama dua tahun, Agustinus mengaku tidak menerima gaji sama sekali sebelum akhirnya mendapat bayaran Rp 50.000 per bulan. Beberapa tahun kemudian, nominal itu naik menjadi Rp 100.000, namun tetap jauh dari harapan.
“Kalau seperti itu hidupnya bagaimana, dua tahun pendapatan dari yang lain atau bagaimana?” tanya Sulianto saat berbincang langsung.
“Iya, dua tahun itu tidak digaji. Setelah 2004 digaji 50 ribu sampai 2006, lalu naik 100 ribu. Itu memang jauh dari cukup, jauh dari harapan,” jawab Agustinus.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa membantu guru hidup layak berarti menjaga masa depan anak-anak tetap memiliki kesempatan untuk berkembang.
Perhatian terhadap kesejahteraan guru bukan sekadar soal angka, melainkan tentang komitmen membangun generasi bangsa yang kuat dan berdaya saing. (Innka)
