
Balikpapan, Kabarterdepan.com – Sebuah video viral di media sosial mengundang keprihatinan publik setelah memperlihatkan seorang anak perempuan menangis tersedu-sedu di hadapan ibunya.
Dalam video singkat yang diunggah oleh akun Instagram @folkkonoha, anak berbaju kuning dengan lengan hitam dan putih tersebut tampak tertekan secara emosional.
Diduga, sang ibu memarahi anaknya karena gagal meraih peringkat satu di sekolah.
Bahkan, dalam rekaman terlihat sang ibu beberapa kali mengarahkan tangannya ke wajah sang anak dan sempat memukulnya.
Ia pun memaksa sang anak untuk berhenti sekolah dan mulai berjualan demi membantu perekonomian keluarga.
Dalam video itu, sang ibu terdengar menegur keras anaknya yang dianggap tidak mampu memenuhi harapannya.
“Nggak ada alasan, bilang ini itu. Nggak ada alasan. Mulai besok, makanya aku bilang selama ini kasih bagus nilaimu. Kasih bagus nilaimu. Biar kamu nggak seperti ini,” ucapnya.
Ia kemudian menjelaskan alasan di balik kemarahannya, sambil menyinggung pentingnya prestasi akademik untuk melanjutkan pendidikan.
“Makanya aku bilang selama ini, kamu usahakan harus bisa ranking 1. Karena Balikpapan ini, dia butuh ranking 1 baru bisa lanjut sekolah. Tapi kamu nggak bisa. Nggak bisa kamu usahakan untuk sekolah ranking 1,” lanjutnya.
Tak berhenti sampai di situ, sang ibu menyampaikan keputusan yang membuat banyak warganet bersedih dan geram.
“Sekarang kan kamu sudah nggak ada lagi harapan buat lanjut sekolah. Jadi kamu mulai besok pergi jualan, pagi-pagi pergi jualan. Kamu mulai sekarang jadi tulang punggung keluarga, cari uang,” tuturnya tegas.
Video tersebut memicu reaksi luas dari masyarakat dan mendapat perhatian langsung dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Balikpapan. Disdikbud bersama kelurahan setempat melakukan penelusuran dan menemui keluarga tersebut.
Dari informasi yang dihimpun, keluarga tersebut memang berasal dari kalangan tidak mampu. Sebagai bentuk kepedulian, pihak kelurahan dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) memberikan bantuan berupa sembako, tas sekolah, alat tulis, serta uang tunai untuk meringankan beban ekonomi keluarga.
Selain itu, Disdikbud menyarankan agar anak tersebut tetap mendapatkan akses pendidikan melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Balikpapan Utara, agar tidak putus sekolah dan tetap memiliki masa depan yang lebih baik.
Kepala Disdikbud Balikpapan juga mengimbau agar masyarakat tidak menekan anak-anak dengan standar akademik yang berlebihan. (Riris)
