
Jombang, Kabarterdepan.com – Kabar kurang sedap datang bagi para pecinta durian. Event tahunan yang paling dinanti, Kenduri Durian (Kenduren) Wonosalam, Jombang, Jawa Timur, dipastikan absen pada tahun 2026. Keputusan pahit ini diambil lantaran produktivitas durian lokal Wonosalam terjun bebas akibat cuaca ekstrem.
Plt Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jombang, Hartono, mengonfirmasi bahwa keputusan pembatalan tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama unsur kecamatan dan pemerintah desa di wilayah Wonosalam.
“Kenduren 2026 belum bisa dilaksanakan. Kami sudah melakukan rapat koordinasi bersama camat dan para lurah di Wonosalam,” tegas Hartono saat dikonfirmasi, Sabtu (14/2/2026).
Salah satu alasan kuat pembatalan ini adalah prinsip untuk menjaga orisinalitas acara. Pemerintah dan masyarakat setempat sepakat tidak ingin memaksakan event dengan mendatangkan durian dari luar daerah. Baginya, Kenduren adalah simbol syukur atas panen raya durian asli Wonosalam.
“Petani durian Wonosalam tidak berkenan kalau diisi durian dari luar. Esensinya adalah perayaan panen lokal, jika dipaksakan dari luar daerah justru akan menimbulkan masalah baru,” imbuhnya.
Kondisi alam menjadi faktor utama kegagalan panen tahun ini. Hartono membeberkan data memprihatinkan terkait tingkat keberhasilan panen yang terus merosot drastis. Jika sebelumnya sempat menyentuh angka 50 persen, kini produktivitasnya anjlok hingga sisa 20 persen saja.
“Tingkat keberhasilan panen di bawah 50 persen, sekarang turun lagi tinggal sekitar 20 persen. Bahkan untuk jualan sehari-hari saja stoknya tidak mencukupi,” jelas Hartono.
Hujan dengan intensitas tinggi yang melanda wilayah Jombang sejak awal tahun menjadi penyebab rontoknya bunga dan bakal buah durian.
Faktor alam ini membuat wacana pengunduran acara ke akhir tahun juga tidak memungkinkan, karena Kenduren sangat bergantung pada momentum panen raya alami di bulan Januari hingga Maret.

Anggaran Kenduri Durian Tak Terserap
Ironisnya, pembatalan ini terjadi di saat anggaran untuk event sebenarnya sudah siap digunakan. Namun, karena komoditas utama yang menjadi ruh acara tersebut tidak tersedia, dana tersebut dipastikan tidak akan terserap.
“Anggaran sudah siap, termasuk untuk pembelian durian. Tapi karena acaranya tidak ada, ya anggaran tidak terserap,” katanya.
Pihak Disporapar juga sempat mempertimbangkan alternatif komoditas lain seperti alpukat atau salak untuk dijadikan pengganti sementara. Namun, rencana tersebut urung dilakukan karena komoditas tersebut juga mengalami nasib serupa akibat cuaca buruk.
“Pasca-Lebaran nanti, kami berencana kembali berkoordinasi dengan pelaku wisata untuk merumuskan langkah promosi wisata alternatif di Wonosalam agar ekonomi masyarakat tetap bergerak meskipun tanpa perayaan Kenduri Durian,” jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, Sekretaris Asosiasi Pariwisata Jombang (ASPARJO) yang juga petani durian, Jalaludin Hambali, mengungkapkan betapa parahnya kondisi di lapangan. Menurutnya, hujan disertai angin kencang membuat proses pembuahan terganggu sejak awal.
“Bunga dan bakal buah rontok lebih dari 90 persen. Biasanya Januari sudah mulai panen, tapi tahun ini sangat jauh berkurang,” ujar Jalaludin. (Karimatul Maslahah)
