
Kota Mojokerto, Kabarterdepan.com – Miris, seorang gadis yatim piatu berusia 18 tahun harus terbaring lemas lantaran mengidap penyakit tumor uterus yang dideritanya beberapa tahun silam hingga membuat tubuhnya semakin kurus dan lemas.
Ia adalah Oktavia Dwi Rahmadani (18) warga Lingkungan Kuwung, Kelurahan Meri, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto yang sehari hari tinggal dengan kakaknya Septi yang bekerja sebagai penjaga stand.
Hal itu membuat Menteri Sosial Republik Indnesia, Tri Rismaharini mendatangi rumah Okta dan memberikan bantuan berupa sembako dan beberapa bahan untuk berjualan.
Kedatanganya ke Kota Mojokerto ini untuk melihat Okta dan menjenguknya lantaran prihatin atas apa yang diderita dan dialami gadis perempuan yang masih berusia 18 tahun ini.
“Adik ini yatim piatu dan dirawat seorang kakak yang juga kondisinya pas-pasan,” katanya, Kamis (5/9/2024) pagi.
Risma pun mendatangkan timnya untuk memberikan bantuan dan solusi untuk melakukan penanganan dan pengobatan terhadap gadis yatim piatu yang telah ditinggal meninggal orang tuanya sejak beberapa tahun lalu.
“Karena itu saya minta segera turun temen-temen dari Kemensos untuk menangani ini,” terangnya
Dari hasil keterangan dokter perawat Puskesmas, Okta sempat dilakukan perawatan di Puskesmas dan dirujuk ke Rumah Sakit Gatoel. Namun, karena alatnya kurang lengkap sehingga dirujuk ke RSPAL dr Ramelan, Surabaya.
“Katanya sudah terminal, cuman kan selalu saya sampaikan kita tidak boleh menyerah,” tutur Risma.
Dalam kesempatan ini, Mensos juga menyarankan ke keluarga Okta untuk memberikan pengobatan yang terbuat dari daun kelor yang diyakini bisa membuat daya tahan tubuh seseorang lebih kuat.
“Memperkuat kondisi fisiknya supaya daya tahan tubuh ini bisa melawan penyakit yang dideritanya,” tandasnya.
Risma juga menekankan kepada jajaran Pemerintah Kota Mojokerto maupun Dinas Kesehatan untuk melakukan pengawalan terhadap pengobatan Okta.
“Tadi juga saya sampaikan sama bu dokter dan teman teman Pemkot untuk kita terus berjuang, tidak ada kata terlambat yang penting kami sudah berusaha,” pungkasnya.
Sementara itu, Septi kakak kandung Okta yang merawatnya setiap hari mengungkapkan rasa terima kasih kepada jajaran menteri sosial yang berkunjung dan peduli kepada adik kandungnya tersebut.
“Terima kasih bu, mohon dibantu dimudahkan sampai ke Surabaya,” ucapnya kepada Mensos Risma.
Septi menuturkan, adik kesayangannya itu berkebutuhan khusus inklusi sejak kecil. Menurut dia, penyakit yang diderita adiknya diketahui sejak tahun 2022 silam.
“Saya terkendala biaya transportasi,” pungkasnya. (*)
