
Opini, Kabarterdepan.com – Fresh graduate kian pusing mencari kerja, syarat lowongan bikin geleng kepala. Begitulah keluhan yang terus bermunculan dari para lulusan baru yang berharap mendapat pekerjaan layak dengan gaji manusiawi.
Kenyataannya, mencari kerja terasa seperti ikut permainan bertahan hidup: lowongan sedikit, saingannya banyak, syaratnya pun makin aneh, lengkap dengan bonus rasa tidak percaya diri.
Fresh Graduate Hanya Bisa Gigit Jari
Seorang pelamar GV, salah satu lulusan dari Kampus Swasta di Surabaya menceritakan bahwa kegiatan hariannya kini hanya memantau lowongan di media sosial.
Ia menegaskan bahwa yang didapat bukan kesempatan, melainkan deretan syarat yang membuatnya merasa seperti manusia tidak memenuhi standar dunia kerja. Ia mengungkapkan bahwa beberapa syarat bahkan terlalu absurd hingga memancing tawa sekaligus stres.
“Setiap baca syarat lowongan, rasanya kayak lagi ikut lomba cari alasan buat tepok jidat,” ujarnya sambil tertawa getir.
Masalah pertama muncul dari syarat pengalaman kerja yang terlampau tinggi. Banyak perusahaan mencari pelamar berusia maksimal dua puluh lima tahun namun wajib memiliki pengalaman kerja hingga tiga tahun.
Situasi ini membuat para pencari kerja mempertanyakan apakah mereka diharapkan bekerja penuh waktu sejak masih memakai seragam kuliah.
Ia menilai syarat tersebut mengada-ada. Perusahaan ingin pengalaman, prestasi akademik tinggi, tetapi menawarkan gaji yang bahkan tidak menyentuh Upah Minimum Kota.
Ia menyebut perusahaan seharusnya menyediakan pelatihan agar karyawan berkembang, bukan sekadar menuntut kandidat instan.
“Saya pernah ditanya, ‘Kok pengalamanmu cuma segini?’. Dalam hati saya jawab, ‘Iya, soalnya saya bukan Doraemon yang bisa loncat waktu’,” keluhnya.

Syarat berikutnya yang tidak kalah membuat kening berlipat adalah tuntutan untuk berpenampilan menarik. Istilah “good looking” terus muncul seakan semua pelamar harus memiliki kulit cerah seperti tepung maizena atau tinggi seperti tiang listrik. Padahal posisi yang dilamar hanya mengurus dokumen, bukan ikut pemilihan Miss Indonesia.
Ia mempertanyakan relevansi penampilan dengan performa kerja. Banyak pelamar memiliki kemampuan mumpuni, tetapi terhalang oleh standar kecantikan yang tidak logis dan cenderung mendiskriminasi.
“Kalau memang butuh model, bilang saja. Jangan lowongannya admin tapi syaratnya seperti idola Korea,” tambahnya sambil tertawa.
Persyaratan umum lainnya yang juga dianggap melelahkan adalah tuntutan siap bekerja di bawah tekanan dan bersedia dihubungi kapan pun. Frasa itu tetap muncul di bermacam iklan lowongan, membuat pelamar bertanya-tanya tekanan seperti apa yang dimaksud perusahaan.
Ia menilai bahwa perusahaan seharusnya lebih jujur soal kondisi kerja. Banyak pelamar tidak keberatan bekerja keras, asalkan gaji dan jam kerja tidak memperlakukan mereka seperti robot tidak pernah tidur.
“Kalau memang tekanannya hebat, tulis saja sekalian ‘Gaji kecil, tekanan besar, tapi senyum tetap wajib’,” ujarnya sambil menyeringai.
Tidak berhenti sampai di situ, sejumlah perusahaan juga masih menuliskan syarat belum menikah, seolah-olah status pernikahan memengaruhi kemampuan mengetik atau membuat laporan. Syarat ini dinilai tidak masuk akal dan justru mempersempit kesempatan kerja bagi banyak orang.
Menurutnya, pencari kerja sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi peluang terhambat oleh kriteria yang tidak masuk akal. Ia berharap perusahaan berhenti menyalahkan anak muda yang dianggap malas, sementara persyaratan kerja justru semakin tidak realistis dan diskriminatif.
“Lowongan kerja itu idealnya mencari pekerja, bukan mencari manusia super yang bisa segalanya tanpa diajari,” tutupnya. (Innka)
