Film ‘What the Water Keeps’ Karya Akral Pictures Tembus Project Spark, Siap Tur ke 5 Negara

Avatar of Redaksi
What the Water Keeps
Akral Pictures berhasil mengepakkan sayapnya di belantikan dunia perfilman internasional. Lewat karya bertajuk ‘What the Water Keeps’. (Istimewa)

Hiburan, Kabarterdepan.com – Kebanggaan luar biasa datang dari dunia perfilman independen Indonesia. Akral Pictures berhasil membuktikan kualitasnya di kancah internasional melalui film pendek bertajuk ‘What the Water Keeps’.

Karya garapan sutradara Bramuda ini terpilih untuk bersanding dengan sinema pendek dari berbagai negara dalam Project Spark, sebuah inisiatif screening bergengsi yang digagas oleh produsen pencahayaan profesional dunia, NANLUX dan NANLITE.

Film What the Water Keeps, Satu-satunya Perwakilan Indonesia dengan Pendanaan Internasional

Prestasi ini menjadi sangat istimewa karena “What the Water Keeps” menjadi satu-satunya film pendek garapan sineas Indonesia yang sukses memperoleh pendanaan dari inisiatif tersebut dan akan menjalani screening tour di berbagai negara, seperti Cina, Polandia, Amerika Serikat, Selandia Baru, dan Indonesia.

“What the Water Keeps” akan ditayangkan bersamaan dengan sinema pendek berjenis experimental shorts dan narrative shorts, di antaranya “Grey Matter”, “Tito Ritmo”, “Waiting for The Old Gods”, “Towards”, “The Missing Key”, “Letters From Ulan Lake”.

Bramuda mengungkapkan bahwa film berdurasi 26 menit 25 detik itu terinspirasi dari kisah nyata yang dialaminya sendiri, yakni kehilangan nenek buyut terkasih, yang dinyatakan meninggal dunia usai beberapa saat berdiam di kamar mandi.

Ia pun mengakui, rasa kehilangan tersebut masih membersamai dan meninggalkan dengan rasa bersalah yang menurutnya tidak pernah bisa dihilangkan.

Alur cerita juga disebutnya terinspirasi dari kisah sahabatnya, yang menemukan sebuah unggahan di grup Facebook tentang sebuah Suzuki Jimny yang ditinggalkan, ditemukan terlantar di pesisir pantai.

“Mobil itu ternyata milik sebuah empat anggota keluarga yang tersapu ombak. Ternyata putra sulung keluarga itu tidak bersama mereka saat kejadian itu karena memilih untuk bersama teman-temannya,” tutur Bramuda.

Saat mendengar kisah tersebut untuk pertama kalinya, Bramuda menyebut, ia berimajinasi dan memposisikan dirinya sebagai putra sulung, yang bergumul dengan makna hidup sesungguhnya serta selamanya menanggung beban sedemikian besarnya.

“Film ini adalah upaya saya untuk menghadapi keheningan itu, untuk menghadapi beban dari apa yang seharusnya terjadi, dan untuk menemukan kekuatan untuk terus bergerak, bahkan dengan beban dari apa yang tidak dapat kita ubah,” jelasnya.

WhatsApp Image 2025 12 25 at 5.49.49 PM

Dalam film pendek “What the Water Keeps”, Bahar (Giulio Parengkuan) masih dihantui rasa bersalah karena tidak berada pada tahun 2024 bersama keluarganya saat mereka tewas di laut.

Ia lantas meminta bantuan Oka (Kaan Lativan), seorang mekanik, untuk membantu memperbaiki Suzuki Jimny milik ayahnya yang terbengkalai. Bahar lalu meminta Oka untuk mengantarnya ke pantai, yang awalnya ditolak Oka dengan halus, tetapi kemudian disetujui.

Saat melalui perjalanan panjang itu, mereka berhenti di sebuah rumah makan, di mana Bahar mengetahui tentang luka Oka. Saudara laki-laki Oka adalah seorang penambang yang hilang saat bekerja di perusahaan penambangan pasir.

Bahar kemudian memberi tahu Oka bahwa dirinya ingin mengunjungi seseorang yang sudah lama tak ia temui, tetapi alasan sebenarnya tetap tidak terucapkan.

Perjalanan itu pun memaksa mereka berdua untuk mengakui rasa sakit yang selama ini mereka hindari, membentuk kontur rasa bersalah yang selama ini mereka tanggung dalam diam.

Saat mereka tiba di pantai, Oka tetap di dalam mobil sementara Bahar berjalan menuju air. Saat Oka memeriksa dasbor mobil, ia menemukan foto keluarga dan potongan koran tentang mobil tersebut, yang menimbulkan keterkaitan yang mengerikan.

Ia mendongak dan mendapati Bahar telah menghilang ke laut. Didorong oleh rasa takut dan masa lalunya sendiri, Oka pun menghadapi terornya di pantai untuk dapat menemukan Bahar.

Produser Dendy Ariza Putra menyebut, kisah perjalanan Bahar bersama Oka terungkap sebagai proses pelarian daripada pencarian solusi. Oka hadir sebagai pemandu melalui kehadirannya yang tenang serta tindakan sederhana yang dijalani, tanpa dominasi emosional.

Pada akhirnya, kejadian ia tenggelam tidak diposisikan sebagai tindakan bunuh diri, tetapi sebagai isyarat performatif terakhir, cara bagi tubuh untuk menyerahkan diri kepada laut sebagai ruang yang menyimpan memori.

“Film ini memilih untuk berakhir pada tindakan penyerahan diri, membiarkan laut menyimpan apa yang tidak perlu diselamatkan atau dikembalikan,” pungkasnya. (*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page