Fenomena Skripsi Terlambat, “Apakah Pendidikan Tinggi di Indonesia Sudah Cukup Efektif Dalam Membimbing Mahasiswa?”

Avatar of Redaksi
fenomena skripsi
Ilustrasi Mahasiswa Mengerjakan Tugas Akhir Skripsi (Freepik)

Opini, Kabarterdepan.com – Fenomena keterlambatan dalam penyelesaian skripsi di kalangan mahasiswa perguruan tinggi di Indonesia menjadi salah satu isu penting yang perlu mendapat perhatian serius.

Setiap tahunnya, banyak mahasiswa yang seharusnya sudah menyelesaikan studi mereka tepat waktu, namun terhambat oleh beberapa faktor tertentu untuk menyelesaikan tugas akhir atau skripsi.

Keterlambatan ini seringkali berimbas pada waktu kelulusan yang molor dan, lebih jauh lagi, mempengaruhi kualitas dari pembelajaran yang diterima mahasiswa selama masa kuliah.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting “Apakah Sistem Pendidikan Tinggi di Indonesia Sudah Cukup Efektif Dalam Membimbing Mahasiswa?” Terutama agar bisa menyelesaikan studi tepat waktu, khususnya dalam hal penyusunan skripsi.

Sistem Pendidikan Tinggi Fokus pada Teori atau Praktek?

Salah satu penyebab utama keterlambatan skripsi adalah ketidaksiapan mahasiswa dalam menghadapi tantangan penyusunan skripsi.

Sebagian besar mahasiswa merasa bahwa proses pendidikan di perguruan tinggi terlalu banyak berfokus pada teori dan penguasaan materi, namun kurang memberikan pelatihan yang mendalam terkait bagaimana cara meneliti, menulis, dan menyusun skripsi.

Mahasiswa sering kali merasa kebingungan dalam memilih topik yang tepat, melakukan riset, hingga menyusun argumen dan analisis yang solid.

Selain itu, dosen pembimbing yang seharusnya menjadi sosok penting dalam bimbingan skripsi seringkali terbatas oleh waktu, jumlah mahasiswa yang banyak, sehingga proses pendampingan mahasiswa kurang efektif.

Proses bimbingan yang seharusnya menjadi sarana untuk memperbaiki dan mematangkan skripsi sering kali terhambat oleh keterbatasan ini, dan akhirnya memperburuk ketertinggalan mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhirnya.

Fenomena Kurangnya Pengelolaan Waktu dan Bimbingan Skripsi yang Tepat

Selain faktor dari sistem pendidikan itu sendiri, faktor eksternal juga turut berperan. Banyak mahasiswa yang menganggap skripsi hanya sebagai kewajiban yang harus dilakukan setelah semua mata kuliah selesai.

Banyak yang menunda-nunda penyelesaian skripsi karena berbagai alasan, mulai dari kurangnya motivasi, tidak jelasnya arahan dosen pembimbing, hingga kesulitan dalam penelitian.

Kurangnya pembekalan tentang manajemen waktu dan pengelolaan tugas akhir sejak awal studi membuat mahasiswa kesulitan ketika akhirnya dihadapkan dengan tantangan besar tersebut.

Namun, di sisi lain, beberapa perguruan tinggi sudah mulai mencoba memperbaiki sistem ini dengan memperkenalkan program-program bimbingan intensif, pelatihan manajemen riset, hingga penguatan peran dosen pembimbing.

Hal ini bertujuan untuk memfasilitasi mahasiswa agar lebih siap dan tidak terjebak dalam penundaan yang berlarut-larut.

3 cerita dosen menikahi mahasiswanya skripsi dipermudah tanpa revisi LN3BKn3CXO
Ilustrasi Dosen Mengajar Mahasiswanya di Kelas (Freepik)

Apakah Sistem Pendidikan Tinggi Kita Sudah Efektif?

Pada akhirnya, fenomena skripsi terlambat mencerminkan adanya ketidakseimbangan dalam sistem pendidikan tinggi kita.

Di satu sisi, pendidikan tinggi memberikan mahasiswa banyak pengetahuan dan keterampilan, namun di sisi lain, kurangnya dukungan sistematik dalam bimbingan memperburuk kesulitan mahasiswa dalam menyelesaikan studi tepat waktu.

Oleh karena itu, perlu ada perubahan paradigma, bukan hanya di tingkat mahasiswa, tetapi juga pada cara pendidikan tinggi membimbing dan mendukung mereka.

Penting bagi perguruan tinggi untuk lebih menekankan pada pembelajaran yang mengintegrasikan teori dengan praktik, serta memberikan bimbingan yang lebih terstruktur dan intensif kepada mahasiswa yang sedang menulis skripsi.

Dosen pembimbing juga harus diberi dukungan agar dapat lebih fokus dalam mendampingi mahasiswa, dengan memperhatikan kapasitas mereka dan mengoptimalkan waktu bimbingan.

Di samping itu, mahasiswa perlu lebih diberdayakan dengan kemampuan manajemen waktu dan penulisan akademik yang baik sejak semester-semester awal.

Dengan demikian, fenomena skripsi terlambat dapat diminimalisir, dan pendidikan tinggi akan lebih mampu menghasilkan lulusan yang siap menghadapi dunia profesional dengan lebih matang. (Tantri*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page