
Jombang, kabarterdepan.com – Tim Ahli Bupati Jombang, Irfan Kharisma dan Medan Amrullah, menggelar pertemuan dengan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang, perwakilan Situs Persada Soekarno Kediri, serta tokoh masyarakat Jombang, membahas sejarah kelahiran Presiden pertama RI, Ir. Soekarno atau Bung Karno yang diyakini lahir di Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Diskusi berlangsung di Sekretariat Titik Nol Soekarno, Gang Buntu, Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang.
Pada pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh semangat. TACB Jombang memaparkan perjalanan serta dinamika perjuangan memperoleh legitimasi penetapan Situs Kelahiran Soekarno di Ploso sebagai cagar budaya.
Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui audiensi dengan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, beberapa waktu lalu.
Sementara itu, Tim Ahli Bupati Jombang menyampaikan sejumlah skema yang dapat dilakukan oleh masyarakat Ploso maupun pemerintah daerah sembari menunggu proses penetapan resmi situs tersebut sebagai cagar budaya.
Situs Kelahiran Bung Karno
Tim Ahli Bupati Jombang, Medan Amrullah, mengatakan pertemuan ini merupakan bagian dari proses berkelanjutan. Ia menilai semangat masyarakat Ploso untuk memperjuangkan Situs Kelahiran Bung Karno sebagai cagar budaya semakin menguat.
“Perjuangan teman-teman TACB yang kemarin sudah bersilaturahmi dan berkunjung ke kementerian itu luar biasa,” kata Medan, Rabu (7/1/2026).
Ia berharap seluruh elemen masyarakat, baik di Ploso maupun Jombang secara umum, dapat bersatu mendukung upaya tersebut.
“Mudah-mudahan masyarakat Ploso, masyarakat Jombang, sepakat mendukung bahwa Ploso ini merupakan titik nol sekaligus tempat kelahiran Bung Karno. Ini kita perjuangkan bersama,” ujarnya.
Ketua TACB Jombang, Nasrul Ilah atau Cak Nas, menilai pertemuan ini menjadi entry point menuju pengembangan yang lebih cepat terkait eksistensi Situs Kelahiran Sorkarno di Ploso.
“Harapan kami semakin optimistis. Pada dasarnya semua pihak, termasuk pemerintah, sebenarnya sudah yakin. Kalau pun ada hambatan, lebih pada persoalan psikologis,” ungkapnya.
Menurut Cak Nas, tidak ada halangan berarti dalam perjuangan ini. Yang dibutuhkan adalah kekompakan dan kreativitas dalam melakukan branding, baik secara fisik maupun nonfisik.
Ia juga menyoroti pernyataan Tim Ahli Bupati Jombang, Irfan Kharisma, yang menyebut Soekarno sebagai simbol identitas Ijo-Abang Jombang.
“Kalau presiden dari unsur ijo ada Gus Dur, maka presiden pertama kita justru mewakili unsur abang, yaitu Bung Karno,” jelasnya.
Dengan demikian, lanjut Cak Nas, identitas Ijo-Abang Jombang akan semakin kuat apabila dua tokoh besar bangsa, Gus Dur dan Bung Karno, sama-sama diyakini lahir di Jombang.
Sebagai informasi, berdasarkan data tertulis maupun cerita tutur yang dihimpun TACB Jombang dan para penelusur sejarah, Soekarno disimpulkan lahir di Ploso, Jombang, pada 6 Juni 1902. Pada 2024 lalu, TACB Jombang juga telah mengeluarkan rekomendasi agar Situs Kelahiran Bung Karno di Ploso ditetapkan sebagai cagar budaya. (Karimatul Maslahah)
