Fakta Baru Love Scamming di Sleman, Omzet Tembus Rp10 Miliar per Bulan

Avatar of Jurnalis: Ahmad
Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta Kompol Riski Adrian saat diwawancarai wartawan usao ungkap kasus penipuan yang dilakukan oleh perusahan love scamming di Sleman, Rabu (7/1/2026). (Hadid Husaini/kabarterdepan.com).
Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta Kompol Riski Adrian saat diwawancarai wartawan usao ungkap kasus penipuan yang dilakukan oleh perusahan love scamming di Sleman, Rabu (7/1/2026). (Hadid Husaini/kabarterdepan.com).

Yogyakarta, kabarterdepan.com – Praktik penipuan daring bermodus love scamming yang beroperasi di Jalan Gito-Gati, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman membuka sejumlah fakta.

Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Riski Adrian, mengatakan perusahaan tersebut merekrut ratusan pekerja hanya dengan satu syarat utama, yakni mampu berbahasa Inggris.

“Termasuk simpel. Syaratnya hanya bisa berbahasa Inggris saja,” ujar Riski.

Jumlah pekerja di lokasi tersebut diperkirakan mencapai 160 hingga 200 orang. Mereka dibagi dalam sistem kerja tiga shift dan bertugas sebagai admin percakapan atau customer service yang menyasar korban dari luar negeri, seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia.

“Setiap shift dibebani target minimal dua juta koin per bulan,” kata Riski.

Omzet Love Scamming

Ia menjelaskan, keuntungan dihitung dari koin yang dibeli oleh korban. Dalam skema tersebut, setiap 16 koin setara dengan 5 dolar Amerika Serikat.

“Jika dikalkulasikan, satu shift bisa menghasilkan lebih dari Rp10 miliar per bulan. Karena operasional berjalan tiga shift, total omzetnya bisa mencapai puluhan miliar rupiah setiap bulan,” jelasnya.

Para pekerja tidak menggunakan identitas asli dan memiliki masa kerja bervariasi, mulai dari satu minggu hingga satu tahun.

Dalam menjalankan aksinya, mereka menggunakan aplikasi percakapan ilegal hasil kloning dari aplikasi kencan daring asal Cina.

“Salah satu aplikasinya bernama Nayo. Kalau di Play Store, keterangannya tidak tersedia di Indonesia. Yang digunakan ini kloningan,” ujarnya.

Dalam struktur internal, CEO atau pemilik perusahaan berperan sebagai penyedia jasa outsourcing.

Ia menerima gaji Rp4,5 juta per bulan dengan memotong sekitar Rp750 ribu dari gaji setiap karyawan. Namun, kepolisian masih mendalami aliran dana tersebut. “Ini masih kami dalami. Kami akan follow the money,” tegas Riski.

Polisi menyebut aktivitas love scamming ini telah berlangsung hampir satu tahun. Hingga kini, belum ditemukan korban warga negara Indonesia maupun ancaman terhadap pekerja.

Sementara itu, Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Eva Guna Pandia menjelaskan bahwa pengungkapan kasus bermula dari informasi masyarakat terkait aktivitas mencurigakan di sebuah perusahaan yang diduga menjalankan penipuan berkedok aplikasi kencan daring.

Menindaklanjuti laporan tersebut, polisi melakukan operasi tangkap tangan di lokasi dan mengamankan berbagai barang bukti yang digunakan dalam operasional kejahatan.

“Petugas menemukan handphone, laptop, perangkat CCTV, serta seperangkat router Wi-Fi yang digunakan sebagai sarana tindak pidana,” ujar Eva dalam rilis kasus.

Dari pemeriksaan awal, polisi mengamankan 64 orang karyawan yang sedang bekerja di perusahaan tersebut.

Setelah dilakukan pendalaman, enam orang ditetapkan sebagai tersangka karena memiliki peran penting dalam struktur operasional perusahaan.

Keenam tersangka itu masing-masing berinisial R (35) selaku CEO atau pemilik perusahaan, H (33) sebagai HRD, P (28) dan M (28) sebagai project manager, serta V (28) dan G (22) yang berperan sebagai team leader.

Eva menambahkan, modus yang dijalankan adalah mempekerjakan karyawan sebagai admin percakapan pada aplikasi kencan daring asal Cina yang telah dikloning dan tidak terdaftar secara resmi di Indonesia. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page