Event Thrifting di Kota Mojokerto Ancam Produk Lokal

Avatar of Jurnalis: Ahmad
Event Thrifting mengancam bisnis toko lokal. (Ezra/kabarterdepan.com) 
Thrifting mengancam bisnis toko lokal. (Tim Redaksi/kabarterdepan.com)

Kota Mojokerto,Kabar Terdepan.com – Toko dan penjual baju lokal di Kota Mojokerto merasa terancam pendapatannya berkurang karena marak event thrifting atau penjualan baju bekas impor.

Salah satu event thrifting itu digelar di Pasar Semeru Kota Mojokerto. Meski pemerintah telah mengeluarkan larangan penjualan produk thrifting, namun aktivitas thrifting masih ada peminatnya. Kondisi ini membuat persaingan ketat bagi para pelaku usaha baju lokal.

Sejumlah pedagang menilai bahwa pakaian bekas impor yang memiliki merek terkenal mampu memikat konsumen karena harganya yang jauh lebih rendah dibandingkan produk baru. Kondisi tersebut membuat banyak merek lokal sulit menarik perhatian pembeli, terutama di area yang ramai dikunjungi seperti Benteng Pancasila.

“Saat ini banyak pihak lokal merasa khawatir karena pakaian bekas impor yang bermerek bisa mengalihkan fokus konsumen. Harga yang sangat kompetitif membuat kami, penjual baju lokal, mengalami penurunan penjualan meski tidak terlalu signifikan,” ujar EK, pemilik toko baju lokal di Benteng Pancasila.

Dampak Event Thrifting

Ia menjelaskan bahwa antusiasme masyarakat terhadap event thrifting menyebabkan sebagian toko lokal harus beradaptasi lebih cepat agar tidak kehilangan pelanggan. Meski begitu, beberapa pedagang tetap optimistis karena konsumen masih memiliki ketertarikan terhadap produk buatan dalam negeri.

Toko distro lokal Bloods asal Bandung yang juga berada di kawasan tersebut memberikan pandangan berbeda. Mereka menilai bahwa preferensi konsumen cukup beragam sehingga tidak semua pembeli sepenuhnya berpaling ke thrifting.

“Untuk sementara ini semuanya masih aman dari sisi konsumen. Ada yang menyukai thrifting karena mencari merek luar yang sudah dikenal, tetapi banyak juga yang lebih senang membeli produk lokal dengan harga yang terjangkau,” kata Nada, perwakilan toko distro tersebut.

Dampak Kesehatan dari Thrifting

Meskipun thrifting diminati, beberapa pelaku usaha menilai bahwa kegiatan ini memiliki risiko kesehatan yang tidak bisa diabaikan. Barang bekas dari luar negeri belum tentu diketahui riwayat pemakaiannya, sehingga konsumen perlu lebih waspada.

“Risikonya cukup besar karena kita tidak mengetahui apakah pakaian bekas itu pernah digunakan oleh orang dengan penyakit kulit atau penyakit menular. Itu sebabnya pembeli harus selektif agar tidak terkena masalah kesehatan,” ucapnya.

Para pelaku usaha lokal berharap pemerintah dapat memberikan solusi yang seimbang, sehingga industri kreatif lokal tetap terlindungi tanpa menghambat kebebasan masyarakat dalam memilih gaya berpakaian. Masyarakat juga diimbau lebih bijak dalam memilih produk, baik lokal maupun impor bekas. (Tim Redaksi)

Responsive Images

You cannot copy content of this page