
Blora, Kabarterdepan.com – Pemerintah Kabupaten Blora mengambil langkah tegas namun tetap mengedepankan sisi pembinaan dalam menangani kasus perundungan yang terjadi di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di wilayah setempat.
Empat pelajar yang diduga terlibat dalam insiden tersebut resmi dimutasi ke sekolah lain. Kebijakan ini diambil demi menjaga suasana belajar yang kondusif sekaligus memberikan kesempatan bagi para siswa untuk memperbaiki perilaku mereka.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora, Sunaryo, menjelaskan bahwa keputusan tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama antara orang tua pelaku dan korban, pihak sekolah, kepolisian, serta sejumlah instansi terkait.
“Langkah pemindahan empat siswa dilakukan agar proses belajar mengajar tetap kondusif. Ini sudah disepakati bersama seluruh pihak. Kami juga menugaskan pengawas sekolah untuk melakukan pendampingan psikologis terhadap korban maupun pelaku,” ujar Sunaryo, Selasa (11/11/2025).
Ia menegaskan, mutasi para siswa bukan bentuk hukuman, melainkan upaya pembinaan. Melalui lingkungan baru, diharapkan mereka dapat belajar dari kesalahan dan menumbuhkan sikap yang lebih baik.
“Kami berharap suasana baru bisa membantu anak-anak tersebut menjadi lebih baik. Kalau tetap di sekolah semula, dikhawatirkan korban akan semakin trauma. Jadi kami melihat langkah ini dari sisi positifnya,” imbuhnya.
Sebagai tindak lanjut, Dinas Pendidikan Blora kini tengah menyiapkan program pembinaan karakter di seluruh satuan pendidikan.
Pencegahan Perundungan
Program ini akan difokuskan pada penguatan nilai moral, empati, serta pencegahan perundungan di kalangan pelajar.
Sementara itu, pihak sekolah tempat kejadian mengaku telah menempuh proses mediasi secara kekeluargaan sebelum keputusan mutasi diberlakukan.
Proses tersebut melibatkan guru, orang tua siswa, aparat kepolisian, Dinas Pendidikan, hingga tokoh masyarakat setempat.
Dari hasil mediasi, diketahui empat siswa yang dimutasi terdiri atas dua pelajar yang berperan sebagai provokator, satu perekam video, dan satu terduga pelaku utama.
Mereka terdiri dari dua siswa kelas VII dan dua siswa kelas IX, sedangkan korban adalah siswa kelas VIII. Insiden itu terjadi pada Jumat (8/11/2025) saat jam istirahat sekolah.

Pihak sekolah menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas peristiwa yang mencoreng nama baik lembaga pendidikan tersebut.
Mereka berkomitmen untuk memperkuat pengawasan dan pendampingan kepada seluruh siswa agar kejadian serupa tidak terulang. (Rga)
