Ekonomi Cianjur Terjepit, Anak Muda Mengaku Tertekan dan Kehilangan Harapan

Avatar of Jurnalis: Ahmad
Ilustrasi pemuda Cianjur tertekan.
Ilustrasi pemuda Cianjur tertekan.

Cianjur, Kabarterdepan.com – Tekanan ekonomi yang kian menghimpit di Kabupaten Cianjur meninggalkan dampak serius bagi generasi muda.

Farhan (22), pemuda asal Kecamatan Warungkondang, mengaku mengalami stres berat akibat sulitnya bertahan hidup di tengah kondisi ekonomi yang tak menentu.

Farhan menuturkan, kerasnya realitas ekonomi memaksanya berpikir keras setiap hari demi memenuhi kebutuhan pokok keluarga. Ia menyebut, roda kehidupan terus berputar, sementara penghasilan keluarga tak pernah pasti.

“Setiap hari keluarga harus makan. Ayah saya bekerja serabutan di sawah, penghasilannya tidak menentu karena hanya bekerja jika ada yang menyuruh,” ujar Farhan dengan nada getir, Senin (19/1/2026).

Dalam keluarga beranggotakan empat orang, Farhan bersama sang ayah harus memikul tanggung jawab membiayai dua adiknya yang masih mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar (SD). Kondisi tersebut kerap membuatnya terpaksa berutang demi memenuhi kebutuhan pendidikan dan pangan.

“Adik saya masih SD. Untuk bekal sekolah dan makan, kalau tidak ada uang, kadang saya harus meminjam ke teman terdekat,” katanya.

Sulitnya Pekerjaan di Cianjur

Upaya mencari pekerjaan telah dilakukan Farhan ke berbagai perusahaan, baik di dalam maupun luar daerah. Lamaran demi lamaran dikirimkan, namun hasilnya nihil. Ia mengaku sulit menembus dunia kerja tanpa modal awal, terlebih maraknya praktik percaloan yang mensyaratkan biaya besar.

“Perusahaan di Cianjur hampir semuanya sudah saya datangi. Banyak yang menawarkan kerja di pabrik, tapi harus membayar sampai Rp15 juta. Dari mana uang sebanyak itu saya dapatkan?” tuturnya.

Tekanan ekonomi tersebut berdampak langsung pada kondisi psikologis Farhan. Ia mengaku kerap mengalami gangguan tidur dan perasaan putus asa yang mendalam.

“Memikirkan keadaan sekarang membuat saya stres, sampai tidak bisa tidur. Setiap hari saya baru bisa tidur lewat pukul 03.00 WIB. Program lapangan kerja dari pemerintah menurut saya hanya janji manis. Saya muak mendengarnya,” ungkapnya.

Meski demikian, Farhan masih menyimpan harapan akan perubahan. Ia berharap kondisi ekonomi nasional, khususnya di Kabupaten Cianjur, dapat membaik. Menurutnya, kesejahteraan masyarakat akan lebih mudah terwujud jika tata kelola pemerintahan dijalankan secara bersih dan bebas dari praktik korupsi.

“Kalau tidak ada korupsi, saya yakin masyarakat Indonesia bisa hidup sejahtera dan tidak terus terjebak dalam kesulitan ekonomi seperti yang saya alami sekarang,” pungkasnya. (Hasan)

Responsive Images

You cannot copy content of this page