
Kabupaten Mojokerto, Kabarterdepan.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di duga memengaruhi stabilitas distribusi barang ke pasar umum. Memasuki bulan suci Ramadan 1447 H, suasana di Pasar Raya Mojosari atau Pasar Legi Mojosari kian riuh.
Namun, keriuhan kali ini bukan hanya soal antusiasme warga berbelanja kebutuhan selama ramadan, melainkan juga soal “mendidihnya” harga komoditas pangan utama.
Di balik lonjakan harga daging ayam dan telur yang tak lazim, muncul persepsi dan dugaan kuat dari kalangan pedagang mengenai penyebab di balik tipisnya pasokan di pasar tradisional.
Para pedagang mensinyalir bahwa tersedotnya stok protein hewani ke program pemerintah, MBG turut memengaruhi stabilitas distribusi barang ke pasar umum.
Hal ini membuat harga di tingkat pengecer melambung tinggi karena minimnya barang yang dikirim oleh pihak distributor dan perusahaan integrator.
Pantauan di lokasi pada Kamis (26/2/2026), harga daging ayam telah menyentuh kisaran Rp 40.000 hingga Rp 43.000 per kilogram.
Kenaikan ini dirasakan bagi konsumen, mengingat harga normal biasanya hanya bertengger di kisaran Rp 35.000 hingga Rp 36.000. Kondisi serupa terjadi pada daging sapi yang kini dijual Rp 115.000 per kilogram dari harga sebelumnya Rp 105.000 hingga Rp 110.000.
Penjual Daging Ayam, Ruswanto, mengungkapkan keluh kesahnya terkait sulitnya mendapatkan pasokan yang stabil. Ia menduga adanya pergeseran distribusi barang dari produsen besar (PT) ke sektor lain yang lebih diprioritaskan, yang berdampak pada kelangkaan barang di pasar rakyat.
“Katanya sebenernya ya. Terputar sama SPPG atau MBG. Dari distributornya katanya barangnya sedikit. Kalau di pasar ya ikut aja kalau naik ya naik” keluh Ruswanto saat diwawancarai.
Tak hanya Ruswanto, pedagang ayam lainnya, Rusman Hadi, juga merasakan dampak langsung dari naiknya harga tebus di tingkat kandang atau distributor. Ia menyebutkan bahwa kenaikan ini terjadi secara bertahap dalam waktu singkat, mencapai Rp 4.000 dalam seminggu.
Antara Kebutuhan MBG dan Pasar Tradisional, Omzet Pedagang Mojokerto Turun Drastis
Hadi mensinyalir adanya permainan stok atau perubahan prioritas dari distributor yang membuat pasokan ke pasar berkurang. Dugaan mengenai alokasi besar-besaran untuk program MBG menjadi perbincangan hangat di kalangan pedagang karena barang seringkali “kurang” atau “sulit” saat hendak dipesan.
Kenaikan ini berdampak langsung pada omzet pedagang yang menurun hingga 50 persen atau 1,5 kali lipat dari biasanya. Pembeli yang biasanya mampu membeli 1 kilogram kini terpaksa hanya membeli setengah kilogram atau bahkan hanya membeli bagian-bagian tertentu saja.
Merespons persepsi pedagang dan lonjakan harga ini, pihak pengelola pasar terus melakukan monitoring. Kepala Pengelola Pasar Raya Mojosari, Sayful Huda, mengakui adanya tren kenaikan yang signifikan pada daging, ayam, dan telur mulai menjelang Ramadan. Ia pun mencatat adanya kunjungan dari Polres hingga kementerian untuk memantau situasi ini pada Senin, 16 Februari 2026.
Sayful menekankan bahwa meskipun pengelola tidak bisa melakukan intervensi harga secara langsung karena pasar bersifat tradisional (bukan PD), pihaknya terus memberikan penyuluhan agar pedagang tidak “aji mumpung” dan menetapkan harga yang terlampau jauh dari harga rata-rata pasar.
“Kita hanya memberikan penyuluan kepada pedagang. Risikonya dengan memberikan harga yang lebih, otomatis suatu saat dia akan dikenal dengan jualannya yang mahal. Akhirnya tidak laku kan,” ujar Sayful Huda.
Kini, para pedagang dan masyarakat hanya bisa berharap agar rantai pasokan kembali normal. Pemerintah diharapkan dapat menyeimbangkan kebutuhan program nasional dengan kebutuhan pasar domestik agar ibadah Ramadan tidak dibayangi oleh krisis harga pangan yang terus “mendidih”.
