
Yogyakarta, kabarterdepan.com – Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta menyampaikan bahwa permasalahan normalisasi sungai bukan hanya terkait kondisi sedimen yang kian menumpuk. Tetapi banyak ditemukan sampah di sungai.
Terbatasnya tempat pembuangan sampah dan minimnya kesadaran masyarakat untuk olah dan pilah sampah menjadi alasan banyaknya sampah dibuang ke sungai.
“Masyarakat paling mudah buang sampah di sekitar sungai, terutama warga di pinggiran. Itu kan salah satunya yang membuat sedimennya semakin cepat naik, akhirnya menumpuk yang kemudian perlu kita bersihkan,” kata Kepala Dinas DPUPKP Kota Yogyakarta Umi Akhsanti, saat ditemui di ruangannya, Rabu (20/8/2025).
3 sungai yang akan normalisasi mengalami peningkatan endapan secara drastis yang menyebabkan seringnya bencana banjir.
Hal tersebut juga dipengaruhi oleh lahar dingin dari Gunung Merapi yang meletus pada tahun 2010 yang turun ke hilir dan mengendap di sungai wilayah perkotaan.
Selain itu, Umi juga menjelaskan bahwa sungai menjadi menjadi muara bagi turunya kotoran limbah dari aliran air perkotaan.
Ia menyampaikan bahwa sedimen secara berangsur akan terus meningkat karena adanya aliran air dari drainase yang dialirkan ke sungai berupa limbah.
“Ya itu besar (lahar dingin), tapi tidak hanya itu seluruh saluran drainase muaranya ke sungai baik Sungai Winongo, Gajahwong, Code,” katanya.
“Yang namanya air hujan itu tetap membawa bawa lumpur itu banyak yang masuk sungai. Kalau lahar itu memang cukup besar, tapi secara rutin akan membentuk endapan-endapan dari saluran air yang turun ke sungai,” imbuhnya.
Ia menyebut jika pengerjaan normalisasi sungai akan dilakukan oleh Balai Badan Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO). Penurunan alat berat akan dimulai pada tanggal 24 Agustus mendatang. Untuk pengerjaanya, Umi menyebut akan dimulai dari sungai Code.
Titik penerjunan alat berat akan dilakukan di Kelurahan Keparakan, Mergangsan, Kota Yogyakarta.
Lokasi tersebut menurutnya menjadi wilayah yang memiliki banyak sedimen. Wilayah tersebut juga telah terdapat akses untuk jalan untuk penurunan alat berat.
Ia menyampaikan bahwa tantangan dalam melakukan normalisasi adalah terkait upaya menyadarkan warga pinggir sungai.
Pasalnya, berbagai aktivitas masyarakat masih sering dilakukan. Saat musim kemarau, lokasi endapan sungai juga sering dijadikan kadang ayam oleh warga.
“Warga juga masih ada yang membuat keramba dan menjadi lokasi mancing,” katanya.
Ia juga menyebut, kawasan sungai menjadi habitat bagi sejumlah spesies reptil, seperti biawak dan ular.
Hal tersebut ke depan perlu menjadi pertimbangan dalam melakukan penataan. (Hadid Husaini)
