
Sleman, kabarterdepan.com – Sejumlah dosen dan mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas Gadjah Mada (UGM) berkolaborasi melakukan aksi untuk menuntut Tunjangan Kinerja (Tukin) bagi para dosen Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berada di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendikti Saintek) untuk bisa dicairkan, Rabu (12/2/2025) di Halam Gedung Balairung UGM, Karangmalang, Caturtunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Balairung UGM

Beberapa dosen yang tergabung dalam Serikat Pekerja Fisipol (SPF) merasa pemerintah melakukan kebijakan yang tidak adil karena Kementerian Pendidikan era Nadiem Makarim tidak menganggarkan Tukin sejak tahun 2020 hingga 2024.
Sedangkan di beberapa kampus lain berstatus Satuan Kerja (Satker) maupun Badan Layanan Ekonomi (BLU) yang berada di Kementrian Agama (Kemenag) maupun Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) telah diberikan.
“Tidak dibayarkan 1 rupiah pun, ASN di lingkungan Kemendikti Saintek tidak dibayarkan selama bertahun tahun sejak tahun 2020. Tidak ada alasan pasti kementerian tidak pernah membayarkan. Kalau anggaranya pasti ada, cuma tidak dianggarkan,” kata Koordinator ADAKSI wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, Alfarisi Akbar Efendi saat diwawancarai wartawan.
Terkait potensi Tukin tidak dibayarkan oleh negara akibat efisiensi anggaran untuk beberapa program pemerintah, hal tersebut menurutnya menjadi kekhawatiran pada dosen ASN. Banyaknya pemangkasan anggaran di kementerian menurutnya akan menjadikan kebingungan tersendiri.
“Untuk kekhawatiran itu pasti, ada karena semua sektor oleh negara itu defisiensi. Di Kemendikti Saintek saja bisa dilihat dari anggaran yang seharusnya mencapai Rp57 triliun dipangkas seebesar Rp22 triliun. Sementara aktivitas kampus seperti Tridharma perguruan tinggi nanti kita pakai anggaran dari mana?,” ujarnya.
Dirinya dan sejumlah dosen sepakat untuk terus melakukan aksi hingga uang tunjangan yang sudah tidak dibayarkan pemerintah dari tahun 2020 tersebut masuk ke rekening.
Ia juga menyampaikan, para dosen selama ini juga tertekan dengan narasi yang dibentuk mengenai pengabdian. Ia menyampaikan sampai kapanpun cita-cita Indonesia Emas hanyalah omong kosong jika mutu pendidikan yang salah satunya ditunjang dengan tenaga didik yang berkualitas tidak tercapai.
“Semua juga menjalankan pengabdian baik TNI, Polri dan ASN. Tapi menjadikan Indonesia Emas itu hanya omong kosong , sementara kita perlu makan, kita juga memiliki keluarga. Dengan gaji Rp2,9 juta bagaimana kita berharap memerdekakan pikiran orang, sementara kita saja belum merdeka,” tutur Alfarisi.
Sementara itu, salah satu dosen yang tergabung dalam Serikat Pekerja Fisipol menyampaikan jika selama ini pemerintah tidak menjalankan tanggung jawabnya dan cenderung diskriminatif karena tidak semua PTN BH mendapatkan Tukin.
“(PTN) yang sudah sejahtera bisa, tapi bagaimana dengan PTN yang lain, terutama di luar pulau Jawa,”katanya. Ia menyampaikan jika selama ini tuntutan kampus terutama UGM yang diberikan cukup besar.
Selain menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi, para dosen diminta untuk meningkatkan publisitas melalui jurnal nasional, meningkatkan akreditasi di setiap fakultas dan berkolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi luar negeri.
Mirisnya, ia menyampaikan para dosen dalam melakukan riset seringkali bergantung pada pendanaan internasional karena tidak memiliki biaya pribadi yang mencukupi. Sedangkan pembiayaan riset yang ada di dalam negeri disebutnya kurang proporsional untuk menunjang kebutuhan riset berkualitas.
“Yang mengganggu kami selama ini adalah seringkali narasi meminta hak sering dihubungkan dengan pengabdian. Kami dianggap dalam meminta hak sebagai bentuk ketidaksetiaan, katanya.
Salah Seorang mahasiswa UGM, Atma yang ikut bergabung bersama para dosen menyampaikan jika selama ini merasakan dampak dari kurangnya peran para dosen dalam mengampu di civitas akademika. Disebutnya selama ini para dosen sering disibukan dengan berbagai kegiatan lain diluar pengajaran.
“Baru baru ini ada dosen yang cabut ke istana kami rasa gaji dosen enggak cukup jadi mendekat ke Istana,” ujar Atma.
Dengan bergabungnya puluhan hingga ratusan mahasiswa untuk melakukan aksi di Gedung Balairung UGM, ia berharap bisa memberikan dorongan moral kepada para dosen. (Hadid Husaini)
