DLH Lakukan Uji Lab Pencemaran Bau dan Limbah PT Enero, Warga Tak Tahu Hasilnya

Avatar of Redaksi
female ecologist protective glove holding test tube with water from city river 431724 13232
Ilustrasi uji lab pencemaran air. (Freepik / Kabarterdepan.com)

Mojokerto, Kabarterdepan.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto kabarnya telah melakukan uji laboratorium udara dan air di sekitar PT Energi Agro Nusantara (Enero) sebagai bagian dari pengawasan lingkungan. Namun, warga Desa Gempolkerep, Kecamatan Gedeg, mempertanyakan transparansi hasil uji tersebut, yang hingga kini belum mereka ketahui.

Keluhan warga terkait bau menyengat yang menyerupai bahan bakar dan kotoran sudah berlangsung lama terutama bagi warga Dusun Suko Sewu RT 8. Selain itu, mereka mendapati limbah pabrik berwarna kecoklatan merembes ke saluran air rumah mereka.

Ketua RT 8 Dusun Suko Sewu, Supardi, menyatakan bahwa DLH memang rutin melakukan pengambilan sampel untuk diuji.

“Kalau DLH saya pikir ada dua bulan sekali atau tiga bulan sekali itu datang untuk uji lab udara,” kata Supardi dalam Podcast Kabar Terdepan, Jumat (21/2/2025).

Namun, ia menyoroti bahwa pengujian lebih sering dilakukan di dalam area pabrik, bukan di sekitar rumah warga.

“Di depan rumah saya itu sering, tapi gak di luar, di dalam pabrik uji labnya. Terus ada yang pernah keluar untuk minta sampel air,” ujar Supardi.

Meski pengambilan sampel sudah dilakukan, warga mengaku tidak pernah menerima laporan resmi mengenai hasil uji tersebut.

“Perusahaan sudah pernah ambil sampel, DLH juga, tapi hasilnya gak tahu,” tambah Supardi.

Kondisi ini membuat warga semakin khawatir dengan kualitas air yang mereka gunakan sehari-hari.

“Terus terang air di lingkungan situ warga gak ada yang berani pakai masak atau minum, orang gak berani, takut semua, jadi sekarang minum pakai air isi ulang,” ungkap Supardi.

Warga pun mempertanyakan apakah kualitas udara dari bau menyengat tersebut aman untuk dihirup atau air limbah yang mencemari air mereka aman untuk dikonsumsi?

“Kata DLH cuma begini, kalau memang itu sangat bahaya, sangat beracun, perusahaan nanti akan ditegur,” pungkas Supardi.

Hingga kini, warga masih menunggu kejelasan mengenai hasil uji laboratorium dan berharap DLH lebih terbuka dalam menyampaikan informasi.

Mereka juga menginginkan pengawasan yang lebih ketat untuk mengatasi pencemaran yang berdampak pada kesehatan dan kehidupan sehari-hari mereka. (Riris*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page